Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tulisan

Jelang Ramadan Tahun 2016

Jelang Ramadan tahun 2016 H-10 (meski belum dipastikan 1 Ramadannya) sudah mulai terasa orang-orang bersiap menyambut kedatangannya. Ya, memang Ramadan bagi sebagian besar kaum muslimin adalah bulan penuh barokah. Oleh sebab itu mereka suka dan berbahagia menyambut kedatangannya. Di lingkungan rumah saya saja hari Minggu kemarin bapak-bapak mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan dengan menghias, membersihkan selokan, merapikan tanaman sisi jalan menuju masjid. Dan biasanya, masjid juga kebagian jatah dibersihkan dan disiapkan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan rutinitas ibadah di bulan Ramadan. Tujuannya supaya jama’ah nyaman nantinya beribadah di masjid. Di sisi lain, banyak orang yang bersiap dengan cara berhemat pengeluaran yang hasilnya nanti di gunakan jelang hari raya (1 Syawal). Mengapa berhemat? Karena budaya mudik dan bersilaturahmi butuh biaya ekstra. Bahkan perkiraan saya, tidak sedikit orang-orang yang mulai berhemat menyisihkan penghasilannya mulai dari bula...

Mey Mey Oh Mey Mey

Hehe, sepupu gue (si Mey Mey) nanya, "Yong, gue dah baca artikel-artikel di blog elu. Itu si Mbah Jingan siape, Yong?" Sepupu gue itu nanya-nya via chat Bbm ke gue. Mmm ... kira-kira setahun-an lalu (gue lupa euy). Waktu itu, gue sempet kaget juga, kok sebegitu kepo-nya sepupu gw, juga kalo pake istilah gw sendiri: "Kok jeli sepupu gw baca satu artikel ( ini artikelnya ) gue itu."  Sebenernye siapa sih Mbah Jingan?  Mbah Jingan itu adalah sosok orang yang saya tua-kan 'disegani'. Saya nggak bisa menebak kapan Mbah Jingan "muncul" di hadapan saya. Dan, –sayangnya– saya juga nggak bisa minta kepada Mbah Jingan untuk hadir –muncul– kalau saya membutuhkan wejangan-wejangannya. Semua tergantung kemauan Mbah Jingan. Orang tua (Mbah Jingan) itu “aneh” –menurut pendapat saya pribadi–. Kalau pas “muncul” di hadapan saya, bicaranya sedikit tapi “mengena”. Bisa jadi sedikit bicaranya itu sebab memang Mbah Jingan mengerti bahwa perkataan itu bisa m...

Inilah Aku

Inilah aku. Seorang anak manusia yang dibesarkan dari tempat penampungan. Seorang anak yang tak pernah mengecap setetes pun air susu ibunya dan belaian sayang bapaknya. Aku dilahirkan normal, ya ... normal. Aku dilahirkan dari rahim ibu yang abnormal jiwanya. Seorang perempuan yang kalah perang dengan egonya sendiri lalu bersekutu dengan iblis. Sementara ayahku, cih! Lelaki ganteng berjiwa serigala yang mempertuhankan selangkangannya. Melalui mereka aku lahir dan akhirnya terdampar di penampungan. Spesies-ku, yang memiliki nasib sama denganku, memang jumlahnya tidak banyak di muka bumi ini. Tapi, apa yang aku rasakan dari setiap detik yang aku alami, mungkin akan menghabiskan seluruh senyum kebahagiaan kalian dalam beberapa kejap saja. Kalian tidak percaya? Apa kalian pernah merasakan rindu sekaligus dendam kesumat kepada orangtua kalian? Apa kalian pernah merasakan benci kepada diri kalian sendiri? APA KALIAN PERNAH MERASAKAN BAHWA KALIAN ADALAH SAMPAH DI KOLONG LANGIT INI?! ...

Andai Kartini adalah Kartono

Muara ide pemikiran seorang Kartini adalah: Memanusiakan manusia. Suatu ide pemikiran yang sudah diusung sejak era sebelum Kartini. Tengoklah sejarah. Berapa banyak "orang-orang besar" yang mengusung ide pemikiran ini.  Hanya saja, sebab kebanyakan manusia lebih melihat "siapa" (subyek) bukan "apa" (obyek) dari sesuatu, terjadilah bias dari apa –ide pemikiran– yang mereka perjuangkan dalam lintasan waktu. Kartini adalah Kartini, seorang perempuan yang hidup di era budaya feodal yang meliputinya. Andai saja, waktu itu Kartini –perempuan– adalah Kartono –lelaki–, mungkin kesimpulan sejarah akan bergeser dari titiknya sekarang.  Apa yang sudah diperjuangkan seorang Kartini mengerucut kepada sebuah sinergi antara ke-perempuan-an dan ke-lelaki-an dalam konteks hidup dan kehidupan. Jangan melawan kodrat sebab akan menimbulkan mudharat. Mengapa hari-hari ini harmoni suara-suara dan tulisan-tulisan Kartini terdengar sumbang dan tak terbaca jelas?

Aku Belajar Melalui Engkau

Aku belajar melalui Engkau.  Dengan pena indra yang kupunya ...  Engkau membimbing lemah pikirku menjadi kuat dan tajam.  Dengan senyum ketegasan,  Engkau menunjukkan dimana letak salahku ketika hendak menggurat garis lurus.  Sederhana.  Begitu sederhana sekali.  Hanya menggurat sebuah garis lurus.  Dan ... melalui kesederhanaan tentang "hanya menggurat sebuah garis lurus" itu, aku mampu merambah aksara berikut semestanya.  Melalui Engkau, bergolong-golong aku menjadikan decit roda peradaban selalu mengalun.  Meski alunannya terkadang seringkali terdengar sumbang dalam satu rentang waktu ... tapi semua itu bukan salah Engkau.  Sebab Engkau hanya ... sudah menunjukkan dimana letak salahku ketika hendak menggurat garis lurus.

Sephia Chat

Teman tapi mesra Sungguh... Aku tak mengenalnya. Bahkan aku pun tak tahu. Apakah dia cantik secantik bidadari. Atau ganteng seganteng bidadara. Sungguh... Aku tak mengenalnya. Bahkan... Setelah diperkenalkan pun. Kami berdua tak pernah bersentuhan jemari. Apalagi bersentuhan hati. Selentingan berita yang aku tahu. Sebab namanya, dapat membuat pagi seseorang menjadi begitu bergairah. Berlomba mencapai puncak titian cinta. Mencapai orgasme imaji. Sebab namanya pula, kebingungan membentuk labirin yang berporos pada pusat pikiran mereka. Membuatnya berpikir, bagaimana membuat semua ini berakhir dengan "baik-baik" saja dan tetap indah mengendap. Sebab namanya pula, seseorang merasakan satu penyesalan terlangka di kolong langit, dosa yang diperbuat sambil tersenyum manis madu dikulum. Terbungkus, dipendam dalam palung hati mereka, terpojok dalam ruang tersempit, untuk mencegahnya dapat terucap lisan yang kadang bebal. Sebab namanya pula, sang penyair 'pedagang pa...

Tersakiti atau Disakiti adalah Bukan Pilihan

Kau??? Hadeuh ... tidak biasanya begitu cepat saya lari ke depan keyboard seperti pagi ini. Seolah-olah takut "tangkapan" ide bakal lepas dari pikiran saya. Hahaha. Ya topiknya sih masih seputaran menulis dan menulis. Hanya mungkin ini artikel –karena baru kali ini– tercepat yang saya tulis, sebab tidak menunggu nanti, dituliskan saat waktu luang datang. Pemicu artikel ini saat Google Plus saya di add oleh Ivan Wiraoctavian. Saya kunjungi situsnya dan membaca artikel ini:  Cerita Gus Dur dan Mata Allah Untuk mendukung apa yang ingin saya utarakan, saya kutip saja sebagian isi artikel mas Ivan itu: .............. Gus Dur : “Kamu suka menulis?” Mughni : “Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.” Gus Dur : “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.” Mughni : “Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai w...

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!! Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.

Membuat Khalil Gibran Berujar

Puisi Blue Shapire Cinta bisa datang, cinta pun bisa pergi. Kesedihan datang, kesedihan pun pergi. Bagi sebagian orang sepertinya mudah  menggantikan satu orang dengan orang lainnya. Tapi, tidak bagiku! Hanya akan ada satu, atau tidak sama sekali.

Anda Sudah Rela?

Ingat mati Mmm, ternyata, malam ini niatnya mau tidur tidak terjadi. Sebab berbicara ngalor-ngidul dengan seseorang yang baru dikenal, tapi ternyata obrolan kami menjadi nyaman. Meski sesekali Saya membalas chat di HangOuts dan sambil terus ngobrol dengan orang yang baru saja saya kenal malam ini.

Kreativitas Merambah Seluruh Anasir Kehidupan Manusia

Bayangkan? Pening-katan ini dibutuhkan program Spider update. Sumber: http://www.nyunyu.com/ Salah ketik ( typos ) dalam penulisan adalah wajar, tapi bagaimana dengan ini: wekawekaweka. Atau ini: cekacekaceka. Para pembaca pastilah mengerti bahwa   weka   dan ceka maklum dalam   chatting.   Bahkan sampai contoh yang paling   fenongelay   – menjadi fenomena di dunia per- chatting -an para alay – (dan bikin s aya terperangah tanpa ngeces ya) pembaca bisa memberi contohnya di kolom komentar.

Ingatlah Sangkakala Waktumu

Ini ilustrasi sangkakala alam semesta. Sumber: https://upload.wikimedia.org/ Orang-orang sedunia baik yang yakin sampai taraf meng-imani atau yang ragu-ragu, skeptis sampai taraf tidak percaya (meski mungkin dalam hatinya terbetik rasa takut juga). Singkatnya yang ber-religi atau tidak ber-religi, dari dulu sampai sekarang sering membicarakan sangkakala waktu.

Oohh.... Gue 'tern@d@'!

Ini kisah nyata. Kisah nyata ini yang mengalaminya gue sendiri. dan kalo gue inget lagi sama kisah ini, kadang gue suka senyam-senyum sendiri karena... Ya, memang sih tiap-tiap orang punya kisah, tiap-tiap orang mengalami suatu kejadian karena mereka hidup dan bergerak. Bahkan tidurnya pun bisa jadi kisah nyata juga, hahahaha. Jadi begini kejadiannya, waktu itu, gue dan Paman gue kudu ke Bandung karena ada keperluan. Kalo nggak salah sih cuma pulang-pergi -nggak nginep-. Kita berdua berangkat pagi dan berencana pulang dari Bandung sore hari. Kenapa kita harus pulang sore hari? Sederhana jawabannya, supaya nggak kemaleman! Waktu perjalanan berangkat ke Bandung sih nggak ada masalah, semua lancar-lancar aja.

Waktu Bercerita Melalui Mulut Sejarah

Waktu melalui mulut sejarah sudah sering kali bercerita bahwa dirinya akan dihancurkan dan mati, kelak. Bercengkerama, dia bercerita dari mulai generasi awal manusia berpijak di bumi hingga generasi kini. Sebagian yang mendengar ceritanya tersungkur bersujud, sebagian tetap tegak berdiri meski akhirnya terkubur juga, dan sebagian lainnya terlupa dan dilupakan oleh sejarah.

Kambing Zaman Dulu Makan Rumput Masih Gratis, tapi Kambing Zaman Sekarang?

Banyak yang bilang, hidup di zaman sekarang itu lebih sulit daripada hidup di zaman sebelumnya. Yaa, memang sih ada benarnya pendapat itu. Itu bisa dibuktikan dengan cara bertanya sama para nenek dan para kakek. Dan jawaban mereka umumnya membenarkan. Buktinya sirih lebih murah di zaman dulu daripada di zaman sekarang. Hehehe. Kambing zaman dulu makan rumput masih gratis, tapi kambing zaman sekarang? Empunya kambing harus beli rumput. Hahahaha, ternyata kambing zaman sekarang banyak yang jadi majikan. Berdiri manis dikandang tunggu rumput datang. 

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Antara Merawat atau Melepaskan Rasa

Merawat itu lebih pelik daripada mendapatkan. Jika sesuatu hal yang di inginkan sudah di dapat, si empunya mempunyai pilihan, melepaskan atau merawat apa yang sudah di dapatkannya. Nah, hal yang mau diangkat penulis kali ini diseputaran tema merawat suatu rasa yang orang menyebutnya C I N T A. Banyak orang setelah diberi rasa cinta tapi dalam perjalanannya rasa cinta itu pupus sedikit demi sedikit bahkan tidak sedikit sekaligus hilang, pergi begitu saja. Banyak sekali penyebabnya. Hanya saja penulis akan membahas salah satu penyebabnya, yaitu: jarak yang mengakibatkan jarang bertemunya pasangan cinta. Memang, ketika rasa cinta datang itu tidak terduga. Yang dirasakan hanya indah, indah dan indah saja. Seiring berjalannya waktu, rasa cinta, kedalamannya diuji oleh sesuatu yang namanya jarak. Ada yang berhasil lolos dari ujian, dan ada pula yang gagal lalu terpuruk.

Kenapa Harus Malu?

Malu. Dalam keyakinan agama Islam, malu adalah sebagian dari tanda-tanda keimanan. Seseorang yang memiliki rasa malu akan berpikir sebelum berbuat, berpikir sebelum berbicara. Bahkan mungkin, berpikir sebelum berpikir!! Tapi di zaman ‘telanjang’ seperti sekarang ini, sebaliknya banyak orang merasa malu bila masih punya rasa malu. Aneh memang. Justeru sebagian orang yang berkata aneh akan dianggap orang aneh di zaman ini. Standar ke-malu-an manusia-manusia zaman sekarang kebanyakan begitu tinggi. Ya, begitu tinggi bila di bandingkan dengan kebenaran penempatan posisi rasa malu yang tepat. Contoh: Si fulan malu miskin meski dia pegawai level menengah dan si fulan tidak malu korupsi untuk menutupi ke-malu-annya sebab menjadi pegawai level menengah tapi miskin. Contoh lainnya, Si fulanah yang perawan malu dengan keperawanannya sebab lingkungan sosialnya adalah para gadis bukan perawan. Untuk itu, agar bisa tetap diterima di lingkungan sosialnya si fulanah rela hilang ke-malu-annya aga...

Nak, Ibumu Belum Pulang?

Nak, ibumu belum pulang? Ayah berjaga mata di persimpangan jalan. Sempat ayah bergumam curiga, namun ayah usir dengan sapulidi kesetiaan. Sapulidi yang ayah kumpulkan sebatang demi sebatang. Lalu sapulidi itu ayah ikat dengan tali putih bersih. Memang, tali itu terlihat agak kusam sekarang, meski begitu, batangan lidinya tetap terikat kuat. Ayah, ibu belum pulang. Kedewasaan saya tumbuh bersama ayah. Menunggu itu melelahkan ayah. Berjaga mata di persimpangan. Cobalah ayah tunggu ibu di jalan setapak. Tidak-kah ayah mengerti?

Mentakziahi Alam Semesta

Ada satu budaya yang masih terjaga dan lestari dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, budaya itu adalah takziah (berkunjung kepada keluarga yang anggota keluarganya mendapat musibah kematian). Faedah dari budaya ini cukup banyak, minimal dilihat dari dua sisi. Pertama, faedah dari sisi keluarga yang dikunjungi dan faedah kedua dari sisi yang mengunjungi. Ya, meskipun sebagian orang masih ada yang belum bisa menerima dengan hati lapang dan akal yang tunduk atas benarnya kenyataan bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti, pasti terjadi. Namun lestarinya budaya takziah ini menjadi bukti bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti, pasti terjadi kepada siapapun dan dimanapun di kolong langit ini.