Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Waktu

Anda Sudah Rela?

Ingat mati Mmm, ternyata, malam ini niatnya mau tidur tidak terjadi. Sebab berbicara ngalor-ngidul dengan seseorang yang baru dikenal, tapi ternyata obrolan kami menjadi nyaman. Meski sesekali Saya membalas chat di HangOuts dan sambil terus ngobrol dengan orang yang baru saja saya kenal malam ini.

Ingatlah Sangkakala Waktumu

Ini ilustrasi sangkakala alam semesta. Sumber: https://upload.wikimedia.org/ Orang-orang sedunia baik yang yakin sampai taraf meng-imani atau yang ragu-ragu, skeptis sampai taraf tidak percaya (meski mungkin dalam hatinya terbetik rasa takut juga). Singkatnya yang ber-religi atau tidak ber-religi, dari dulu sampai sekarang sering membicarakan sangkakala waktu.

Waktu Bercerita Melalui Mulut Sejarah

Waktu melalui mulut sejarah sudah sering kali bercerita bahwa dirinya akan dihancurkan dan mati, kelak. Bercengkerama, dia bercerita dari mulai generasi awal manusia berpijak di bumi hingga generasi kini. Sebagian yang mendengar ceritanya tersungkur bersujud, sebagian tetap tegak berdiri meski akhirnya terkubur juga, dan sebagian lainnya terlupa dan dilupakan oleh sejarah.

Mentakziahi Alam Semesta

Ada satu budaya yang masih terjaga dan lestari dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, budaya itu adalah takziah (berkunjung kepada keluarga yang anggota keluarganya mendapat musibah kematian). Faedah dari budaya ini cukup banyak, minimal dilihat dari dua sisi. Pertama, faedah dari sisi keluarga yang dikunjungi dan faedah kedua dari sisi yang mengunjungi. Ya, meskipun sebagian orang masih ada yang belum bisa menerima dengan hati lapang dan akal yang tunduk atas benarnya kenyataan bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti, pasti terjadi. Namun lestarinya budaya takziah ini menjadi bukti bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti, pasti terjadi kepada siapapun dan dimanapun di kolong langit ini.

Lintasan Waktu Berkurang?

Waktu dipahami dalam perspektif kuantitas. Orang awam seperti Saya umumnya mengetahui bahwa satuan waktu terkecil adalah detik. Dari jumlah 60 detik lalu disebut 1 menit. 60 menit disebut 1 jam. Terbetik pertanyaan dibenak Saya,"Apakah waktu bertambah? Atau justeru sebaliknya?" Jika berpatokan dari penjumlahan detik menjadi menit, lalu menit menjadi jam, secara matematik, waktu itu bertambah secara kuantitas. Dengan kata lain waktu bertambah mengembang jumlahnya dari ia mulai ada diciptakan. Tapi, benarkah?

Ke-ngelantur-an Ilmiah

Anda, pembaca, pasti sudah tahu istilah real time 'waktu nyata', atau yang semakna dengan istilah itu. Suatu peristiwa dalam lingkup waktu yang terjadi dan karena teknologi zaman, peristiwa itu dapat disaksikan secara real time oleh manusia lainnya di belahan bumi yang lain. Anda, memiliki kawan di belahan dunia lain dan melakukan video call , ini salah satu contohnya. Malam dan siang, sebagai pembeda waktu sudah mampu "dilangkahi" oleh teknologi zaman ini. Benarkah demikian?

Refleksi Mina 2015

Ibadah Qurban yang sudah "mengkarat" membudaya di setiap negeri Muslim tahun ini diiringi dengan dua kali musibah di tanah Suci. Dalam lintasan waktu, itu semua terjadi dan menimbulkan kebahagiaan juga sekaligus kedukaan mendalam –kebahagiaan haru– bagi para pelaku peristiwa.  Musibah Mina 2015 waktu setempat, ketika di sisi belahan dunia lain para Muslimin merayakan kebahagiaan selepas melaksanakan solat 'Ied Adha, di tempat Suci musibah itu terjadi dengan jumlah Syuhada –Insya Allah– wafat lebih dari ratusan jiwa. Jiwa-jiwa yang telah membuktikan ketundukan dan ketaatannya dengan memenuhi panggilan Ilaahi untuk berhaji, semoga kini sudah tersenyum menjemput pahala yang sudah dijanjikan-Nya. Aamiin.  Ya, esensi ibadah berkurban adalah mengenai ketundukan. Meneladani sang Khalilullah, Nabi Ibrahim A.s yang merendahkan dirinya di hadapan perintah Rabb-nya dengan ketaatan serta ketundukannya melaksanakan perintah-Nya. Dan, para jamaah haji yang telah berpulang...

Melangkah Menuju Akhir

Gue masih punya satu tanda tanya besar yang belum kejawab berkaitan dengan waktu. Tanda tanya ini yang bikin gue jadi bikin tulisan-tulisan di blog ini yang ada kaitannya (meski kadang ada artikel yang nyengsol dari topik waktu, hehe) dengan apa yang berusaha gue coba pahami dari waktu. Ini juga gue pas lagi ngetik artikel ini masih belum tahu apa yang gue mau tulis. Ngetik ditemenin sama kopi hitam favorit gue plus camilan. Hehehe. Bentar ye, gue nyamil plus nyruput sisa kopi hitamnya dulu.

Waktu Tertunduk Terkalahkan

Logo Aku lelah mengejar waktu. Fatamorgana kuberlari ke depan, tapi nyatanya yang kukejar adalah waktu lalu. Menghela napas barang sejenak dan kuberteduh duduk di bawah pohon perenungan sambil menunggu sang pohon menjatuhkan buahnya barang sebiji, itu tak mengapa. Sejuk angin menerpa badan berpeluhku setelah sekian lama mengejar. Sebenarnya, siapa yang mengejar? Aku? Atau waktu? Jika waktu yang benar mengejarku, mengapa dia tak pernah lelah? Bersandar di batang pohon menikmati sejuk angin, hingga pergi kesadaranku, mengikuti jiwa kemana. Hei!!! Mengapa jiwa yang mengajak kesadaranku pergi membuat diriku sadar bahwa aku bisa berada di masa laluku? Bahkan diajaknya aku ke satu waktu yang aku sulit menjawabnya, apakah waktu di waktu itu tertinggal jauh olehku? Atau waktu di waktu itu lelah sehingga beristirahat sejenak? Mengapa? Semua ini nyata! Mungkin semua orang mengatakan apa yang aku alami adalah mimpi. Tapi ... bukan! Ini bukan mimpi. Kesadaranku sadar bahwa bersama jiwa aku...

Waktu

Dua bait lirik lagu lawas itu bercerita tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu dan sekarang hanya bisa di “play” melalui kotak kenangan. Banyak peristiwa yang terjadi dalam suatu rentang waktu. Dan banyak pula pelaku peristiwa yang sudah bergabung dalam rombongan masa lalu. Namun, tetap sang waktu terus berjalan, tak menengok atau sekadar melirik rombongan yang sudah ditinggalkannya.