Langsung ke konten utama

Waktu Bercerita Melalui Mulut Sejarah

Waktu melalui mulut sejarah sudah sering kali bercerita bahwa dirinya akan dihancurkan dan mati, kelak. Bercengkerama, dia bercerita dari mulai generasi awal manusia berpijak di bumi hingga generasi kini. Sebagian yang mendengar ceritanya tersungkur bersujud, sebagian tetap tegak berdiri meski akhirnya terkubur juga, dan sebagian lainnya terlupa dan dilupakan oleh sejarah.


Bibir sejarah tak jemu dan lidahnya tak kelu untuk menyampaikan berita tentang waktu. Terkadang dengan intonasi lembut, sedang, bahkan tak jarang keras bagai suara pecut petir menggelegar di langit hitam. Tegas bagai gunung tegak menjulang memuntahkan laharnya. Deras bagai sapuan ombak tsunami air laut tak terbilang. Adakah kalian teringat di zaman apa hari ini kalian hidup?

Kalian mempercayai atau tidak mempercayai cerita sang waktu, pun tetap hancur dan ... mati. Sebab umur kalian tidak lebih lama dari iblis. Lalu mengapa harus tertipu –untuk tak mempercayai cerita sang waktu– oleh kesombongan iblis jika pada akhirnya kalian akan menyesal di sisa umur kekal kalian kelak?! Sungguh itulah sebesar-besar penyesalan kalian kelak di sisa umur kalian yang kekal. 

Mengapa waktu begitu tulus dan rela selalu bercerita melalui mulut sejarah dari tiap-tiap generasi kalian? Sebabnya adalah, waktu diciptakan untuk tunduk mengabdi sedangkan kalian diciptakan untuk diuji. Ber-terima kasih-lah kepada sang waktu. Meski sang waktu kelak tak merasakan surga kalian kelak, namun dia tetap tersenyum kelak. Mengapa? Karena setelah itu ia akan menjadi kekal, sama seperti kalian. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Itulah Uniknya Gaya Ide Menulis Ide

Menulis ide dan ide menulis tidaklah sama. Dua hal inilah yang bikin saya nggak bisa tidur malam ini. Pikiran saya bertanya-tanya, "Apa bedanya dari dua hal itu ya?" Menulis Ide Kalau dilihat dari susunan kata-katanya, –menulis ide– ya titik beratnya di menulis ide -nya. Maksudnya, apa yang ditulis si penulis ya berkaitan dengan ide yang disampaikan penulis dalam bentuk tulisan. Contoh sederhananya? Mmm … apa ya. Oya, contohnya seperti saya yang penggemar kopi hitam, saking gemarnya minum kopi hitam, saya mempunyai ide bagaimana meracik kopi hitam biasa menjadi lebih nikmat jika diminum. Nah, ide saya tentang bagaimana meracik kopi hitam menjadi lebih nikmat itu saya tuliskan tuntas, dari A sampai Z. Itulah menulis ide. Kalau saya perhatikan, banyak dari para blogger menggunakan cara menulis ide ini yang kemudian di posting di blognya. Tapi tetap dengan menggunakan gaya menulis khas mereka –para blogger– sendiri dalam gaya penulisannya. Enaknya pakai cara menulis ide...

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.