Skip to main content

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!!
Say No? Ya! Say No!!!
Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.
Ternyata, memang, selingkuh selalu berkaitan dengan dua pihak tetapi ranah pengertiannya tidak hanya sebatas antara asmara b*j*t. Anda tidak percaya? Boleh saja. Dan saya boleh juga dong menggelitik sisi penasaran Anda untuk merangsang hasrat hati dan pikiran Anda yang kebetulan membaca artikel saya kali ini.

Selingkuh berangkat dari miskinnya moral pelakunya. Sebagai orang timur dengan segala budaya ketimurannya, Anda, pembaca sepertinya memahami apa yang Saya maksudkan dengan adab, budaya ketimuran yang masih tetap kita -berusaha- genggam erat meski tangan mulai terasa licin oleh keringat akibat jantung berdetak terasa lebih cepat mengikuti irama peradaban global, globalisasi. Lalu, apa benang merah antara globalisasi dan miskinnya moral? Toh globalisasi membawa banyak perubahan bagi hidup dan kehidupan manusia yang hidup di kolong langit ini. Betul, itu semua tidak diingkari. Tapi sebuah perubahan selalu membawa efek bercabang dua.

Saya tinggalkan paragraf diatas sebagai bahan diskusi dan saling asah saran bagi Anda di warung kopi lesehan, Coffee shop (bahasa kerennya) dan lain tempat.

Tahukah Anda, bahwa arti selingkuh menurut KBBI adalah:
selingkuh/se·ling·kuh/ a 1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng;[sumber]

Poin 1. Suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri

Hehe, Apa yang terlintas dipikiran Anda setelah membaca pengertian selingkuh menurut KBBI ini? Hal yang terlintas dipikiran saya adalah: Memberi persamaan antara orang kikir dengan pelaku selingkuh. Apa yang terlintas dipikiran Anda? Silakan Anda menjawab (dalam hati saja).

Lalu, tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong. Nah, saya tepikan dulu arti serong sebab ini segaris dengan paragraf pertama artikel ini.
  • Tidak berterus terang; tidak jujur. Ternyata selingkuh juga terkait erat dengan sifat kejujuran -meski berseberangan-. saya kembali teringat orangtua sering bicara menasehati saya tentang kejujuran ini. Jujur dalam bicara, jujur dalam sikap perbuatan, dan....jujur kepada diri sendiri.
  • Curang. Ini juga ternyata termasuk dalam arti kata selingkuh. Tapi..mm...sebentar. Bagaimana dengan pernyataan ini: Usahanya memang sukses dan berkembang pesat, tapi ternyata pedagang itu selingkuh. Hehehe, "selingkuh" dengan siapa? Lelaki atau perempuan sih pedagang itu? Tidak terpikirkan oleh kita bahwa sebenarnya curangnya pedagang itu adalah selingkuhnya -si pedagang- terhadap langganannya. Jika Anda pedagang jujur, tak usah khawatir dengan pernyataan itu. Tapi jangan salahkan jika seorang pedagang curang didatangi langganannya dan langganan itu berkata,"Kamu selingkuh!" Lalu ucapan itu terdengar oleh istri si pedagang yang lalu keluar sambil membawa penggorengan dan membuat si pedagang pingsan akibat penggorengan mendarat mulus di pipinya. Padahal? Pedagang itu hanya(?) "selingkuh" akibat curang dalam menimbang telor 2 Kg sehingga kurang 2 butir.

Poin 2. Suka menggelapkan uang, korup

Jelas, pandangan langsung tertuju kepada para koruptor yang selain selingkuh dalam artian ini, sebagian mereka menggenapi -meski ganjil- dengan perbuatan selingkuh dalam artian yang dikenal maklum oleh kita, awam. Selingkuh pangkat 2, pangkat 3, pangkat 4 dst. Bahkan ada dari mereka -para koruptor- yang benar-benar genap -sekali lagi! Meskipun ganjil- dalam keseluruhan arti selingkuh menurut KBBI. Masya Allah. Cekacekaceka.

Poin 3. Suka menyeleweng

Ini diibaratkan seperti kereta api yang berjalan keluar dari relnya. Adat dan adab ketimuran begitu anti dengan watak manusia seperti ini. Hampir dalam setiap lini kehidupan orang berwatak seperti ini akan ditolak, ditolak dalam masyarakat, lingkungan pekerjaan dan lainnya.

Selalu dan selalu dalam kata selingkuh ini pasti merugikan satu pihak. Sebisa mungkin kita harus berusaha untuk tidak selingkuh. Ini bisa dimulai dengan tidak berselingkuh terhadap diri sendiri.
Ternyata, memang, selingkuh selalu berkaitan dengan dua pihak tetapi ranah pengertiannya tidak hanya sebatas antara asmara b*j*t. Anda percaya?


Katakan, tidak! Pada selingkuh.
Katakan, tidak! Pada mendua.
Tapi...
Katakan, ya! Pada kesetiaan atas cintamu
Katakan, ya! Pada kebahagiaan dunia-akhiratmu.  

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Tersakiti atau Disakiti adalah Bukan Pilihan

Kau??? Hadeuh ... tidak biasanya begitu cepat saya lari ke depan keyboard seperti pagi ini. Seolah-olah takut "tangkapan" ide bakal lepas dari pikiran saya. Hahaha. Ya topiknya sih masih seputaran menulis dan menulis. Hanya mungkin ini artikel –karena baru kali ini– tercepat yang saya tulis, sebab tidak menunggu nanti, dituliskan saat waktu luang datang. Pemicu artikel ini saat Google Plus saya di add oleh Ivan Wiraoctavian. Saya kunjungi situsnya dan membaca artikel ini:  Cerita Gus Dur dan Mata Allah Untuk mendukung apa yang ingin saya utarakan, saya kutip saja sebagian isi artikel mas Ivan itu: .............. Gus Dur : “Kamu suka menulis?” Mughni : “Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.” Gus Dur : “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.” Mughni : “Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai w...