Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Menulis

Terima Kasih Jingga Kirani

Berawal dari chat di Hangouts dengan kawan G+, saya cukup terkaget-kaget juga. Sebab, meski saya yang memulai membuka chat dengan mengundang kawan saya ini, dari chat obrolan ringan, bergeser kepada obrolan salah satu artikel di blog saya. Dan mengapa saya kaget?

Kejujuran adalah Sederhana

Sering kita melihat kata dan kalimat yang begitu "wah" (terkesan glamour dan berlebihan seperti dalam cerita sinetron) dalam sebuah artikel. Maksud "wah" saya disini adalah suatu artikel yang membahas topik keseharian namun berisi kata dan kalimat yang menggunakan bahasa bukan sehari-hari. Ya saya hanya bisa tersenyum meringis ketika membacanya. Dalam hati saya berujar, "Ternyata kejujuran juga sudah mulai terlihat jarang dalam sebuah artikel." Tapi ... mmm ... saya mendapat satu pelajaran berharga soal kejujuran setelah membaca artikel bergaya "wah" itu. Ya, kejujuran adalah bernilai. Kejujuran adalah "emas" meski sebagian orang mempersamakannya dengan kertas (ini sebuah ungkapan untuk membedakan nilai intrinsik antara emas dan uang kertas). Nilai kejujuran sebuah artikel terlihat dari gaya menulis dan tata kata juga bahasa penulisannya yang sesuai dengan topik bahasannya. Kejujuran adalah sederhana . Bila hatinya tahu, maka jema...

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Lanjutan "Inilah....."

Melanjutkan topik tentang gaya menulis tulisan yang saya posting di: Inilah... . Ya ini menurut versi saya dulu aja deh ya. Gaya menulis itu tergantung dari mood si penulis saat menulis apa yang ditulisnya. Satu waktu melow, lain waktu below. Satu waktu penuh kalimat yang semangat, di lain waktu bisa loyo (kalimat yang loyo itu seperti apa sih???). Satu waktu seorang penulis itu bakal ngeh , mood yang bagaimana yang menghasilkan tulisan bagus secara obyektif, diterima dan dipahami pembacanya. Ini semua didapat berangkat dari rutinitasnya menulis. ditambah juga dari interaksinya dengan lingkungan sekitar penulis itu sendiri. Kalo penulis itu sering berinteraksi dengan kalangan-kalangan pemikir, gaya menulisnya banyak tertular dari hasil interaksinya dengan kalangan pemikir itu. Jadi, baiknya seorang penulis itu banyak berinteraksi dengan berbagai macam kalangan. Jangan pilih-pilih. Sebab semua kalangan mempunyai cerita , semua kalangan mempunyai " sesuatu" yang bisa diang...

Menulis dengan Jari Telunjuk

Hai. Saya masih belum puas. Appaaa? Maksudnya, saya masih belum puas menulis topik artikel tentang menulis. Ya sambil saya terus menulis artikel ini siapa tahu ada Mang Inspirasi lewat dan berhenti, lalu bertanya sama saya, "Jang, mau inspirasi?" Bagi Anda yang mau mulai menulis –begitu juga saya–, perlu Anda ingat bahwa menulis perlu dilatih, sama seperti seorang bayi yang berlatih untuk berdiri. Si bayi itu tidak serta merta langsung berdiri sambil mengangkat satu tangan tinggi-tinggi –bayangkan Ncing Super Hero–, lalu bicara, "Aku bisa!!" Memang benar sih semua perbuatan pastilah punya tujuan. Tapi ... untuk sampai ke tujuan itu, kan perlu proses. Mulailah menulis dan ikuti prosesnya.

Siapa Pasangan Penulis Itu?

Artikel ini melanjutkan artikel sebelumnya yang berjudul: Sudahkah anda berbicara hari ini? . Hanya saja apa yang saya bahas di artikel ini lebih mencoba menggali lebih dalam dengan dua jari, menggali satu kata yaitu: Menulis. Jangan terkejut ya, sebab apa yang coba saya gali dari kata "menulis" ini tidak berasal dari sumber-sumber formal umumnya, tapi berasal dari apa yang ada di benak saya saja. Jadi jangan terlalu serius membacanya. Kalau setelah sampai di kalimat terakhir para pembaca bisa memahami apa yang tertulis di artikel ini, silakan melanjutkan browsing lagi. Jika belum? Restart Pc atau smartphone Anda (hehe).

Sudahkah Anda Berbicara Hari Ini?

Hai. Ada hal yang mengganjal dalam benak saya beberapa hari ini. Tapi bukan berhubungan dengan "galau" semacam itu ya ... hehee. Begini, dari apa yang saya tahu, –karena setiap hari seseorang berbicara dan menulis– menulis dan berbicara adalah media untuk menyampaikan atau memindahkan apa yang ada di benak seseorang, apa yang ada di pikiran seseorang kepada orang lain. Bisa jadi dan mungkin saja kemampuan setiap orang berbeda dalam hal mengolah dan mengelola "media" yang satu ini.