Skip to main content

Rahim Sang Penulis


Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Ya, itu hanya sekadar tulisan. Saya beri ilustrasi sederhananya begini : Tulisan si b@jingan –bagi yang belum tahu siapa "b@jingan" itu, searching saja artikel saya di blog dengan keyword 'b@jingan'– itu tulisannya bagus, mudah dibaca dan selalu berisi kalimat-kalimat kasar, apriori-minded bahkan terkadang provokatif, sementara tulisan si Mbah Jingan penuh kata-kata sederhana penuh makna meski ... tulisannya jelek dan untuk membacanya perlu cara berulang-ulang kata per kata (maaf ya Mbah Jingan). Mana di antara dua tulisan dalam ilustrasi itu yang menurut Anda bagus ?

Paragraf pertama saya diatas jangan Anda berapriori negatif ya. Itu sebagai paragraf penunjang paragraf berikutnya saja. Jadi, hindari apriori-minded.

Isi. Semua kembali ke "rahim tulisan" itu. Isi.

Lantas bagaimana? Ini seumpama seorang ibu yang sedang mengandung janin dalam rahimnya. Supaya janinnya tumbuh sehat dalam rahim, sang ibu menghindari memakan makanan-minuman yang dapat merusak sang janin. Hingga nantinya sang jabang bayi yang dilahirkannya sehat, normal. Itu setali tiga uang dengan isi. Sebelum isi itu keluar dalam bentuk sang jabang bayi yang sehat, normal, bahkan disukai orang lain, "rahim" sang penulis juga harus diberi asupan kosakata terbaik. Hingga waktunya sang jabang 'tulisan' bayi itu lahir, menggoda orang-orang yang melihatnya, membacanya, sebab susunan katanya kaya kosakata bermakna, bermanfaat.
Dan, semoga jabang 'tulisan' bayi saya yang sudah lahir ini bermakna, bermanfaat bagi Anda, pembaca.

Logo

Comments

  1. hmmm... kalo ibu nengandung minum susu, penulis barangkali harus mengkonsumsi buku..atau blog walking :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm sepertinya begitu :)
      Eh, makasih ya dah mau kasih komen disini, Mas aral.

      Delete
  2. Rahim sang penulis. AHA...sukses untuk idenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hatur nuhun Ibu Iin, sukses juga ya buat ibu (o)

      Delete

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan berikut berkomentarnya kamu.

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Itulah Uniknya Gaya Ide Menulis Ide

Menulis ide dan ide menulis tidaklah sama. Dua hal inilah yang bikin saya nggak bisa tidur malam ini. Pikiran saya bertanya-tanya, "Apa bedanya dari dua hal itu ya?" Menulis Ide Kalau dilihat dari susunan kata-katanya, –menulis ide– ya titik beratnya di menulis ide -nya. Maksudnya, apa yang ditulis si penulis ya berkaitan dengan ide yang disampaikan penulis dalam bentuk tulisan. Contoh sederhananya? Mmm … apa ya. Oya, contohnya seperti saya yang penggemar kopi hitam, saking gemarnya minum kopi hitam, saya mempunyai ide bagaimana meracik kopi hitam biasa menjadi lebih nikmat jika diminum. Nah, ide saya tentang bagaimana meracik kopi hitam menjadi lebih nikmat itu saya tuliskan tuntas, dari A sampai Z. Itulah menulis ide. Kalau saya perhatikan, banyak dari para blogger menggunakan cara menulis ide ini yang kemudian di posting di blognya. Tapi tetap dengan menggunakan gaya menulis khas mereka –para blogger– sendiri dalam gaya penulisannya. Enaknya pakai cara menulis ide...

Aku adalah Aku

Aku adalah aku. Manusia bodoh yang berlagak sok pintar dengan sedikit ilmu seolah-olah mengetahui semuanya. Aku adalah aku. Manusia ganjil yang tak mau menggenapi. Aku adalah aku. Manusia hina yang memulyakan dirinya sendiri. Aku adalah aku. Manusia berjiwa kecil dengan jubah kebesaran materi dan kekuasaan. Aku adalah aku. Manusia picik yang berhias dengan kebijakan semu. Namun Aku adalah aku. Yang mau tak mau, sudi tak sudi Niscaya tertunduk wajah di hadapan ke-AKU-an-MU.