Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Assalamu'alaykum

Sibuk sekali aku. Hampir seharian perhatianku tak lepas dari memperhatikan lelaki itu. Memang tugasku adalah memperhatikan, bersama satu kawanku. Tugasku dan kawanku laksana sepasang detektif, bahkan boleh dibilang tugas kami lebih berat dari tugas detektif swasta yang disewa oleh kliennya. Kami bertugas dengan profesionalitas ajeg, hanya mengumpulkan data dari keseharian lelaki itu, tanpa intervensi subjektif. Tapi, kawanku tidak terlalu sibuk di hari ini. Waktu bertugas kami sudah dimulai saat lelaki itu membuka matanya hingga ia kembali tidur dan menutup mata. Jadi, jam kerja kami tidaklah menentu dalam seharinya. Adakalanya kami berdua begitu sibuk mendata dan mencatat semua kegiatan lelaki itu. Jadi, selain jam kerja kami yang tidak menentu, kesibukan kami berdua juga tergantung dari apa-apa hal kegiatan lelaki yang selalu kami perhatikan itu. Karena hari ini hari Minggu, kegiatan lelaki itu tidaklah sesibuk hari-hari lainnya saat ia bekerja di luar rumah. Dari semenjak ia mem...

Ayu Mau, kan, Jadi Pacar Aku? Mau, Ya?

Ini satu “ puzzle ” kisah gue lagi yang gue rangkum dalam susunan huruf menjadi makna-makna. Dari kisah ini, semoga pembaca bisa mengambil pelajaran berharga –kalau ada–, nantinya. Gue dan dua orang teman gue (sebut saja Aliando ‘Cungkring’ dan Dude ‘Nino’ ) , ibarat pinang dibelah tiga, cuma gue kebagian menjadi potongan yang paling kecil sehingga selalu kelihatan macam orang yang hokinya kurang. Bahkan, sampai urusan bersaing untuk mendapatkan hati perempuan idaman, gue selalu di belakang, ketinggalan jauh sama teknik mereka berdua. Meski begitu, sebagai kawan akrab, untuk urusan mendapatkan hati perempuan nggak bikin keakraban kita jadi renggang. Gue yang sempat merantau di Surabaya ‘ketimuran’, sedang Cungkring yang Tegal ngapak, juga Nino yang Brebes ngapak, banyak mengajarkan filosofi-filosofi hidup “ngapak” ‘ketengahan’ kepada gue. Sedangkan, gue sendiri sebenarnya ‘kebaratan’ yang sempat ‘ketimuran’ dan akhirnya mendapat polesan ‘ketengahan’ dari mereka berdua. Satu co...

Hasrat Guilani

Malam ini, Guilani terlihat gagah di mata Vaiya. Dengan dua bahu bidangnya berjalan dengan gaya yang sungguh lelaki. Tatapan Vaiya tak lepas dari memperhatikan Guilani, seolah ia ingin matanya merekam semuanya dari Guilani dan memutar ulang ketika ia pejamkan matanya nanti. Siapa tahu, Vaiya bisa memimpikan tentang Guilani. Merasakan hangat sentuhan kulitnya. Saling bertatapan hingga hasrat itu datang. "Aahh," gumam Vaiya, "belum selesai matanya merekam, hasrat itu sudah datang." Sementara Guilani, semakin menjadi pongah menyadari di sudut ruangan ada seorang perempuan sedang memperhatikan dirinya. Dia tampilkan semua kelelakiannya untuk memikatnya. Guilani berjalan ke sana kemari bak bintang di atas karpet merah. Guilani semakin yakin bahwa perempuan itu sudah terpikat. Perempuan itu tetap bergeming. Perlahan tapi pasti, Guilani menghampiri Vaiya. Vaiya tetap bergeming terpesona dan tubuhnya seperti lekat di tempatnya. Semakin dekat Guilani mendekat, tatap...

Maafkan Aku, Mas

Aku terpaku. Perempuan itu menarik punggung tanganku dan menciumnya dengan khidmat. Dan menyisakan beberapa tetes air matanya yang masih menempel di punggung tanganku, lalu diiringi ucapannya yang lirih, "Maafkan aku, Mas." Dan perempuan itu beranjak pamit sementara aku masih dengan keterpakuanku, memandangi punggung tubuhnya yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di ujung jalan. Ah! Tersadar aku dari lamunan. Potongan peristiwa masa laluku yang seolah nampak jelas kembali ketika aku memandang foto wajahnya di Facebook. Seraut wajah hitam manis berbalut jilbab cokelat muda dengan garis senyum lebar, simetris bersama bangir hidung juga dua binar bola matanya. Sampai detik ini pun, aku masih memvonis diriku sendiri dengan "palu" kegagalan. Semua di luar dugaan, ketika dahulu aku berucap kepada Nia, "Ni, Mas memutuskan untuk sementara kembali pulang." "Mengapa Mas? Apa alasannya?" Nia bertanya seolah curiga dengan keputusanku. Te...

Merenung Sambil Ngupil

Hidup di zaman gue ini penuh keanehan. Atau mungkin, bukan si zaman yang sebenernya aneh, tapi gue. Ah nggak tau lah. Tapi kalo emang bener ternyata diri gue yang aneh, masa gue harus kemas semua barang-barang gue terus pindah cari zaman yang pas buat keanehan gue? Emangnya mesin waktu udah masuk pasar eceran dan bisa dibeli bebas? Atau gue harus ikut "Program Transmigrasi" pindah ke planet Mars? Boro-boro gue bisa ikut program itu, lha ... kalo gue traveling kemana-mana aja kudu selalu bawa yang namanya minyak angin (minyak angin? Ckckck). Kalo gue bener diajak ikut "Program Transmigrasi" ke planet Mars, paling banter cuma jadi manusia percobaan aja, buat ngetes berapa lama manusia kuat megap-megap di planet Mars.