Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi RBD Ungaran

Jati Diri

Berjelaga nadi mencari jati diri Di antara desak rusak zaman yang berserak Serak kuberteriak Kakiku tertusuk onak duri Pedih Perih Sedih Merintih Tertatih-tatih #AdaYangPunyaObatMerah ? Biar bagaimana Inilah hidup fana Bungkam "aduh"-mu Dengan senyum bisu Yakinlah, sebentar lagi ku-mu Terurai bagai anai-anai Melangit bersama cahaya Jati diri yang sebenarnya Lalu ... di manakah aku, dan kamu? Jati diri yang dicari? ... terpendam dalam bumi

Balada Orangtua Singkong

Dengarkanlah, Nak. Orangtuamu ini hanyalah orangtua singkong Yang tak pernah mengajak engkau melancong Melihat tempat-tempat kinclong Tengok dan lihat wajah Ibumu ini, Nak Ibumu ini adalah perempuan yang hanya menurut kepada takdirnya. Takdir Ibu adalah memiliki engkau atas perjanjian amanah Ibu genggam erat atas nama cinta Tengoklah dan lihat mata Ayahmu, Nak Mata Ayahmu ini mata yang benci untuk menangis Meski hatinya sering meringis pedih bila melihat apa yang engkau inginkan tak tergubris Lalu sang anak itu pun menjadi besar di bawah terik sinar mentari, ditemani cahaya rembulan

Tak Berjudul

Tidak semua anak bisa menuliskan tentang kepribadian ayahnya.  Terkadang ...  begitu banyak sekat ...  begitu banyak pekat ...  yang mencegat ...  membuat jemarinya tercekat. Mengapa begitu?  Sebab ia sungkan.  Ketika ia sedang menuliskan beberapa kata.  Sang ayah sudah menuliskannya dengan tinta keringatnya.  Ketika ia sedang menuliskan beberapa kalimat.  Sang ayah sudah menuliskannya dengan tinta darahnya.  Bahkan ... ketika ia sedang menuliskan beberapa paragraf.  Sang ayah sudah menuliskan buku hidupnya, dengan tinta nyawanya.  Dan akhirnya ...  sang anak hanya mampu melangitkan do'a ...  untuk ayahnya

Dia Tidak Bersalah

Dia tidak bersalah.  Atas apa yang terjadi hari ini.  Dia tidak bersalah.  Atas garis lurus yang sudah berusaha diguratnya, tapi dibengkok-kan oleh riuh suara sumbang setelahnya.  Dia tidak bersalah.  Atas isi kepala bergandul sanggul yang keluar melalui mulut dan pena-nya. Tanyakan kepada hari ini.  Apakah hitam adalah putih?  Atau putih adalah hitam?  Tanyakan kepada hari ini.  Apakah gelap adalah terang?  Atau terang adalah gelap?  Tentu sang hari akan terdiam, bisu, kelu.  Sebab hitam dan putih, terang dan gelap adalah laras harmoni kamu!Sang hari.  Tanpanya, kamu tak ada!  Dia tidak bersalah.  Sebab yang diperjuangkannya adalah memanusiakan manusia.  Meski dia adalah manusia berjuluk ... perempuan.  Dia tidak bersalah.

Benarlah Adanya

Adalah zarah rasa memuai dari palung hati setelah sekian lama ia tergeletaK.  Ketika sentuhan lembut membangunkannya dari mati suri beku lamA.  Usapan lembut, hangat, merasuk masuk mengoyak sukma jengahkU.  Cerita tentang Engkau nyatanya bukan romantiC.  Ingin kubungkam mulut-mulut penafsir dusta bergaun dengkI.  Namun penyamun tetaplah penyamuN.  Tak ayal satu waktu mereka pasti terperanjaT.  Atas pencurian makna suci yang seharusnyA.  Kala itu benarlah adanyA.  Aku-mu akan lebur hancur, aku-mu akan tertolaK.  Usahlah bersedih bening, jangan menangis, hening ... bilakah itu kisahmU?

Cahaya, Ada Apa dengan-Mu?

"Aku melihat diriku seperti kanvas... Mungkin aku bukan warna favorite-mu, tapi yakin suatu saat kau membutuhkanku untuk menyelesaikan lukisanmu." Cahaya, ada apa denganmu? Sejenak, serak suaramu terdengar. Terdengar mengalir bercerita. Adakalanya suaramu terbata-bata. Tertahan oleh helaan bebanmu. Hingga pada satu detak detik. Lidahku melontarkan kata hatiku keluar. Jeda kemudian bulir air mataku menemaninya. Bersama isak terucap istighfar. Hening sejenak. Ternyata isak-ku tidak sendiri. Hanya kamu, Cahaya. Isakmu menemani isak-ku. Dan ... aku tahu kamu sering terisak. Terisak sendiri tanpa ada yang menemani. Ah!!! Aku benci air mata. Aku benci mengapa air mata harus keluar dan menetes di pipi perempuan seperti kamu. Perempuan yang rela berkorban dan berjuang demi kerinduanmu menggapai kedamaian. Kerinduanmu adalah rindu yang sederhana. Tapi semua menjadi rumit sebab satu alasan dengki dan ke-tidak percaya-an! Rinduku sederhana. Hanya berkalu...

Cinta, Kutemukan Kamu

Cinta. Kamu tahu? Mengembara aku mencari. Menyigi setiap depa bumi. Meskipun hanya bayang, cinta. Pelak aku tengok. Mencari kamu. Cinta. Cinta. Kamu tahu? Mengembara aku mencari. Menyigi setiap depa bumi. Pada siang dan berpeluh. Mencari kamu, cinta. Menuai cita. Harapan. Cinta. Kamu tahu? Mengembara aku mencari. Menyigi setiap depa bumi. Pada malam sepi temaram. Suluh asa ditangan. Sementara hati. Mencari. Cinta. Di sepertiga waktu cemburuku membuncah, me-merah wajah menahan getir perih sayatan dengki. Sebab kamu? Cinta ... ternyata bukan! Cinta yang kukenal tak menghadirkan dengki. Cinta yang kukenal menghadirkan ketulusan. Cinta yang kukenal tak menghadirkan benci. Cinta yang kukenal menghadirkan keindahan. Cinta. Kutemukan kamu. Di salah satu sudut. Bilik hati, sendiri, tertunduk. Malu-malu wajah merahmu menengadah. Tersenyum penuh air mata. Sejenak berhenti. Berdetak. Hati. Menatap cahaya. Wajah kamu kuseka. Tersisa cahaya dan ...

Azali Cinta

Indah sangat cinta nan suci. Berkalang tanah tetap dipuji. Azali cinta dari Sang Pemilik. Berzarah-zarah menyebar kedalam bilik makhluk. Tak lekang ia meski hanya diam terselimuti kabut kefanaan. Ia azali dari Sang Pemilik. Berbahagialah wahai bilik nan jernih. Pun zarah tersenyum bercahaya. Meniti jalan fana, meniti ikhlas. Hingga terlelap dalam rengkuhan Sang Pemilik.

Khayalku

Guratan cinta masa lalu Dirimu.  Kembali.  Mengusik hati dan pikiranku Cerita.  Yang telah kulebur. Kubentuk seindah paras wajahmu. Yang kukenal dulu. Aku.  Dibelai. . Jemari harapanmu. Lembut. Terasa.  Menyentuh wajahku. Namun.  Kutersadar.. Kau kini hanya khayal. Ku, tak dapat meraih. Bayang dirimu sekalipun. Kembali.  Diriku . . . kembali. Merenungi semua yang telah terjadi. Mungkinkah.  Kau beri aku. Satu kesempatan sekali lagi.

Sudahlah

Sudahlah. Sudahlah. Sudahlah. Asa tali yang putus. Sudahlah. Binar mata yang kini redup terhalang air mata. Sudahlah. Kini sudah karena kemarin. Sudahlah. Sudahlah. Sudahlah. Senyum manis yang kini terasa pahit jika kulihat. Suara indah yang parau di telingaku yang terdengar. Buah bibir yang berbau busuk. Sudahlah. Sudahlah. Kemarin yang menyudahi kini, karena masa itu tak bisa direngkuh. Salahmu karena benarku. Salahku karena benarmu. Sudahlah. Sudahlah.

Bercinta dengan Waktu

Pikiranku melayang. Jelang dirimu. Teringat kisah cinta yang terindah dalam hidupku. Masihkah di hatimu. Tersimpan asa. Rasa dan cinta mungkin tak sempurna. Namun terjaga. Andaikan kudapat mengulang kembali. Kisah terindah di antara kita. Akan kubawa engkau pergi bersama. Menjalin cinta yang tertunda. Masihkah di hatimu. Mencintaiku. Meski kupernah buat kau terluka. Oh maafkanlah aku.

Pupus

Sudah lupakan saja. Karena kita telah berbeda. Tak 'kan mungkin cinta kita menyatu. Kenyataan yang tercipta. Cinta kita telah terpisah. Meskipun itu pahit terasa untuk kita berdua. Sudah lupakan saja diriku. Kadang kala cinta tak harus bersama. Tak seindah apa yang pernah kita impikan. Sudah sudah lupakan saja. Kenangan diriku bersamamu. Satu harap kupinta. Terucap dari bibirmu. Maafkanlah. Cintaku telah pupus.

Bercermin

Duhai ... kesedihan melumatku.  Hingga kering kolam air mata hati.  Menggelepar sekarat.  Duhai ... kebahagiaan menghampiri sekaratku.  Membumbungkan aku dan melangit.  Tak lah kesedihan ada kebahagiaan.  Tak lah kebahagiaan ada kesedihan.  Apa yang menjadikan engkau berdua datang silih berganti bertandang?  Saat mengetuk pintuku, gemetarku membukakannya.  Mengharap harapan.  Tak lah kesedihan ada kebahagiaan.  Tak lah kebahagiaan ada kesedihan.  Di dalam gua aku berkhidmat.  Menyigi hal engkau berdua.  Pelak kau berdua s'lalu datang.  Selama ruh masih terikat di raga.  Tak lah kesedihan ada kebahagiaan.  Tak lah kebahagiaan ada kesedihan.  Hal ikhwal engkau berdua nyatanya utusan.  Menguji, mengilhami, mencerahkan.  Tak lah kesedihan ada kebahagiaan.  Tak lah kebahagiaan ada kesedihan.  Hmm ... pahamku atas engkau berdua. Duhai kesedihan. Duhai k...

Tersendiri dalam Hiruk Pikuk Keramaian

Tersendiri di dalam hiruk pikuk keramaian. Tersendiri di dalam dimensi waktu di mana aku terpenjara di dalamnya. Tersendiri di dalam dimensi materi yang membatasi langkah pikiran. Tersendiri di dalam diri yang menginginkan kedamaian yang hakiki. Bagai tinggal menetap di dalam rumah yang berpenghuni namun tersekat oleh kamar-kamar. Terdengar ramai di telinga kebisingan aktivitas para penghuni rumah, tapi tak ditemukan harmoni. Keramaian yang semu, kebisingan yang hening. Tak ditemukan kedamaian, kesejukan, harmoni dari para penghuni rumah. Ramai orang-orang melintas di keramaian namun yang ku rasa ke-tersendirian. Tak lah kurasa damai dalam keramaian.  Hanya bising yang kudengar. Ingin aku menetap tinggal di pinggir pulau berpantai Dimana hening adalah hening, ramai adalah ramai. Bukan ramai dan hening yang sekedar kata-kata tak bermakna. Ingin aku menetap tinggal di pinggir pulau berpantai. Duduk di pinggir pantai mendengar kebisingan debur ombak berharmoni. Men...

Talak Atas Nama Cinta

Adalah bumi yang menatap langit dengan penuh harap. Dan langit yang kadang meneteskan air mata menyejukkan gulana bumi berharap. Adalah mereka dahulu bersatu.  Firman niscaya Sang Adil yang menalak untuk suatu maha rencana-Nya. Rindu dendam menyelisik pusat bumi, menggelegar di langit. Adalah langit yang awannya memeluk gunung tinggi bumi. Berharap bersatu sangkakala tertiup saat. Menghadirkan abadinya senyum terindah menaungi hamba-hamba bermahkota akhlakul karimah. Ah ... bumi berdesah. Mmm ... langit bergumam. Andai kami mampu melukis niscaya saat. Inspirasi datang di: Sept 13 2009

Aku adalah Aku

Aku adalah aku. Manusia bodoh yang berlagak sok pintar dengan sedikit ilmu seolah-olah mengetahui semuanya. Aku adalah aku. Manusia ganjil yang tak mau menggenapi. Aku adalah aku. Manusia hina yang memulyakan dirinya sendiri. Aku adalah aku. Manusia berjiwa kecil dengan jubah kebesaran materi dan kekuasaan. Aku adalah aku. Manusia picik yang berhias dengan kebijakan semu. Namun Aku adalah aku. Yang mau tak mau, sudi tak sudi Niscaya tertunduk wajah di hadapan ke-AKU-an-MU.