Skip to main content

Cahaya, Ada Apa dengan-Mu?

"Aku melihat diriku seperti kanvas...
Mungkin aku bukan warna favorite-mu, tapi yakin suatu saat kau membutuhkanku untuk menyelesaikan lukisanmu."

Cahaya, ada apa denganmu?

Sejenak, serak suaramu terdengar.
Terdengar mengalir bercerita.
Adakalanya suaramu terbata-bata.
Tertahan oleh helaan bebanmu.

Hingga pada satu detak detik.
Lidahku melontarkan kata hatiku keluar.
Jeda kemudian bulir air mataku menemaninya.
Bersama isak terucap istighfar.
Hening sejenak.

Ternyata isak-ku tidak sendiri.
Hanya kamu, Cahaya.
Isakmu menemani isak-ku.
Dan ... aku tahu kamu sering terisak.
Terisak sendiri tanpa ada yang menemani.


Ah!!!
Aku benci air mata.
Aku benci mengapa air mata harus keluar dan menetes di pipi perempuan seperti kamu.
Perempuan yang rela berkorban dan berjuang demi kerinduanmu menggapai kedamaian.

Kerinduanmu adalah rindu yang sederhana.
Tapi semua menjadi rumit sebab satu alasan dengki dan ke-tidak percaya-an!

Rinduku sederhana.
Hanya berkalungkan keyakinan akan pertemuan.
Dan ...
rindumu sederhana.
Hanya berkalungkan keyakinan akan pertemuan tanpa adanya perpisahan ... lagi.


Catatan:
Inspirasi ini berasal dari sang pemilik tulisan di dalam tanda kutip diatas.
Semoga cahaya kedamaian hati yang kamu rindukan, jelas nyata, suatu saat kelak.

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!! Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.

Tersakiti atau Disakiti adalah Bukan Pilihan

Kau??? Hadeuh ... tidak biasanya begitu cepat saya lari ke depan keyboard seperti pagi ini. Seolah-olah takut "tangkapan" ide bakal lepas dari pikiran saya. Hahaha. Ya topiknya sih masih seputaran menulis dan menulis. Hanya mungkin ini artikel –karena baru kali ini– tercepat yang saya tulis, sebab tidak menunggu nanti, dituliskan saat waktu luang datang. Pemicu artikel ini saat Google Plus saya di add oleh Ivan Wiraoctavian. Saya kunjungi situsnya dan membaca artikel ini:  Cerita Gus Dur dan Mata Allah Untuk mendukung apa yang ingin saya utarakan, saya kutip saja sebagian isi artikel mas Ivan itu: .............. Gus Dur : “Kamu suka menulis?” Mughni : “Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.” Gus Dur : “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.” Mughni : “Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai w...