Skip to main content

Sudahkah Anda Berbicara Hari Ini?

Hai. Ada hal yang mengganjal dalam benak saya beberapa hari ini. Tapi bukan berhubungan dengan "galau" semacam itu ya ... hehee. Begini, dari apa yang saya tahu, –karena setiap hari seseorang berbicara dan menulis– menulis dan berbicara adalah media untuk menyampaikan atau memindahkan apa yang ada di benak seseorang, apa yang ada di pikiran seseorang kepada orang lain. Bisa jadi dan mungkin saja kemampuan setiap orang berbeda dalam hal mengolah dan mengelola "media" yang satu ini.


Perbedaan kemampuan itu bisa berakibat beragam, mulai dari akibat yang ringan (dicuekin ... mungkin (?)) hingga berakibat fatal (Apa contohnya?, Batal nikah?, Batal dapat proyek?, Batal jadi pejabat? hehehe). Sebenarnya sih kemampuan seseorang menggunakan "media" ini bisa dikembangkan asal mau belajar, praktek, belajar, praktek, belajar, praktek.

Menulis. Ah, sebaiknya saya mulai dulu dari berbicara. Berbicara merupakan kebutuhan setiap orang setiap hari. Ya! Setiap hari. Pernah pembaca mencoba tidak mengeluarkan suara selama sehari? Meski hanya sekedar ... kentut? (maaf, kentut kadang juga tidak bersuara). Saya yakin kita semua tidak pernah tidak bersuara. Yang dilakukan minimal ya mungkin berdehem. Nah, dalam hal berbicara ini terdapat beberapa macam skill yang semua tujuannya agar si pembicara sukses men-transfer apa yang di-inginkan kepada pendengarnya, dengan catatan, para pendengarnya bukan dari komunitas bolot mania, atau dari paguyuban 1G (ingat-ingat lagi berapa kecepatan loading jaringan internet zaman 1G ini). Contoh skill dari berbahasa verbal salah satunya adalah intonasi. Seorang pembicara handal mampu menggunakan teknik ini dan menempatkan intonasi pada kalimat atau kata yang pas, sehingga para pendengarnya terhenyak (bahasa sehari-hari kita: melongo) lalu tersadar yang pada akhirnya menggugah mereka untuk berubah. Contohnya: Ir. Soekarno. (mari kita angkat topi)


Sumber : Youtube.com

Sudah ditonton videonya? Kalau sudah, yuk ke teknik berbicara berikutnya. Pemilihan kata. Ya. Pemilihan kata hingga terangkai menjadi satu atau beberapa kalimat yang "mengena" pendengarnya dimiliki oleh pembicara mumpuni. Nabi Muhammad Saw adalah satu contoh yang paling dapat menggambarkan maksud dari apa yang disebut pembicara dengan kemampuan mumpuni dalam memilah kata, terangkai dan baik grammer-nya, yang akhirnya mampu "mengubah" para pendengarnya. Selain itu, teknik yang saya tahu lainnya adalah waktu dan tempat. Teknik yang ini sepertinya tidak perlu saya jelaskan panjang lebar. Sebab para pembaca dan semua orang tahu. Sebab ada istilah: "Berbicaralah pada tempatnya."

Menulis. Lha ini. Saya memulai menjelaskan apa yang ada di paragraf pertama diatas dengan satu pertanyaan kepada pembaca, "Kapan terakhir Anda menulis?" Jawabannya bisa beragam seperti, "Saya terakhir menulis saat beli pulsa elektrik goceng," atau, "terakhir saya menulis waktu saya tanda tangan sebab kena tilang Pak Polisi." Ya, beragam jawabannya. Bisa Anda lihat dan tangkap perbedaannya, ya pembaca, dari dua macam media yang mengganjal benak saya beberapa hari ini. Nah ternyata, menulis sebagai media yang digunakan manusia, para manusianya jarang melatih atau me ngembangkan kemampuannya dalam menulis oleh sebagian besar orang-orang yang hidup di atas (bukan dimuka, sebab lebih besar muka bumi daripada muka kita) bumi ini. Ya, nggak usah jauh-jauh, contohnya saya. Anda bisa lihat –itu memang sengaja tidak saya edit– rangkaian kalimat tulisan underline. Padahal istilah buku adalah jendela ilmu masih diajarkan di setiap sekolah-sekolah. Ingat, setiap apa yang kita makan berpengaruh pada tubuh kita. Minimal pengaruhnya ... kenyang. Telinga jika mendapatkan asupan (cie bahasanya) yang positif merangsang pikiran untuk merenung. Begitu juga mata dengan buku dan tulisan-tulisan. Makanya nggak aneh, apa yang keluar dari mulut b@jingan berbeda dengan apa yang keluar dari mulut Mbah Jingan. Bahkan dari suatu tulisan banyak menginspirasi seseorang atau banyak orang. Nggak percaya? Buktinya mana? Buktinya adalah apa yang sedang Anda baca ini bisa jadi menginspirasi Anda untuk meneruskan jejak Mbah Jingan.


Quotes
Sumber : http://defakirs.blogspot.com/

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Terima Kasih, Guru!

Sumber: https://4.bp.blogspot.com/ Sumber : http://i1242.photobucket.com/ Persahabatan adalah jalinan murni tak pandang bulu. - Darimana saya memulainya ya?.... Mmmm, Ya, wanita ini pertama kali saya kenal, dulu, di masa SMA. Awalnya saya tidak terlalu akrab karena saya terhitung murid pindahan. Saya memilih untuk lebih dulu mengakrabi kaum lelaki sekelas daripada "mereka". Hehe, bukan saya bermaksud pilih kasih, tapi itu lebih didasari rasa malu saya saja kepada "mereka". Satu hal yang saya ingat sebab saya memperhatikannya. Apa yang saya perhatikan darinya? Wanita yang semasa SMA duduk bersebelahan -meski tidak semeja- dengan bangku belajar saya ini, tidak pendiam, tidak juga diam jika diajak bicara oleh saya. Dia menjawab seperlunya saja. Teman semejanya ini, mmm...seperti koin, ya seperti koin. Sama-sama wanita, memiliki hobi yang sama, duduk di meja yang sama, meski begitu tetap mereka berada disisinya masing-masing. Terbukti mereka berdua sekarang ti...