Skip to main content

Ke-ngelantur-an Ilmiah

Anda, pembaca, pasti sudah tahu istilah real time 'waktu nyata', atau yang semakna dengan istilah itu. Suatu peristiwa dalam lingkup waktu yang terjadi dan karena teknologi zaman, peristiwa itu dapat disaksikan secara real time oleh manusia lainnya di belahan bumi yang lain. Anda, memiliki kawan di belahan dunia lain dan melakukan video call, ini salah satu contohnya. Malam dan siang, sebagai pembeda waktu sudah mampu "dilangkahi" oleh teknologi zaman ini. Benarkah demikian?



Jawaban dari pertanyaan itu adalah, tidak! Tidak demikian. Semua teknologi itu –yang berkaitan dengan istilah real time– sebenarnya adalah teknologi fatamorgana, meski begitu tetap memberi manfaat besar bagi umat manusia sebab teknologi itu mampu menghubungkan antara seseorang dengan lainnya di belahan bumi. Mengapa saya sebut teknologi fatamorgana? Sebab mereka yang terhubung –sebab teknologi itu–, kenyataannya mereka tetaplah berada dalam lintasan waktunya masing-masing. Malam sejatinya adalah malam dan siang sejatinya adalah siang.

Kita, manusia, adalah makhluk yang terikat oleh waktu. Dimensi waktu. Dan saya segarkan ingatan Anda pembaca, bahwa jin, juga terikat oleh dimensi waktu. Mungkin artikel ini sulit diterima dan dicerna oleh beberapa akal dari (maaf) pembacanya. Jangankan Anda, saya sendiri yang menulis artikel ini agak kesulitan menyusun rangkaian kata, kalimat, paragrafnya untuk bisa memindahkan apa yang ada dalam pemahaman saya kepada Anda (hehehehe).

Kembali ke bahasan paragraf ketiga. Jika kita sudah bisa memahami dan menerima kenyataan bahwa bumi ini dihuni oleh manusia dan jin yang masing-masing terikat oleh dimensi waktunya, lantas saya bertanya sendiri, "Sudahkah ada teknologi yang menghubungkan antara kedua dimensi itu? Suatu teknologi yang menghubungkan antara penghuni waktu di dunia dimensi." Mereka (jin) bisa melihat kita (manusia) dari suatu tempat yang tersembunyi.

Saya bukan paranormal sebab saya manusia normal seperti manusia-manusia lainnya yang memiliki berpuluh-puluh –beribu bahkan berjuta– pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ini salah satu pertanyaan saya.

Anda pembaca mungkin pernah mendengar atau melihat sebagian orang yang memiliki keistimewaan mampu berkomunikasi dengan penghuni waktu di dimensi lain. Sebagian manusia yang tidak memiliki keistimewaan itu bisa jadi bertanya, "Ah memang bisa?! Bagaimana cara berkomunikasinya?", sebagian lagi skeptis. Itu wajar saja menurut saya, sebab memang manusia adalah makhluk berjasad sehingga segala sesuatu harus terdengar dan terlihat oleh telinga jasad dan mata jasad. Sementara sebagian manusia yang memiliki keistimewaan itu mungkin juga bertanya, "Mengapa saya bisa mendengar, melihat penghuni waktu dimensi lainnya? Padahal saya tak pernah belajar mempelajari teknologi untuk itu."

Artikel yang saya tulis ini mungkin dianggap tidak ilmiah sebab tidak datang dari metode ilmiah. Padahal segala sesuatu di alam semesta ini adalah ilmiah sebab ada ilmu di dalamnya, hanya baru sebagian kecil saja yang tergali dan diketahui manusia di generasinya. Anda melihat ke-ngelantur-an ilmiah artikel ini, mulai dari paragraf pertama berisi ide tentang real time sampai dengan ide paragraf ini, ke-ngelantur-an ilmiah.

Jawaban dari pertanyaan di paragraf ke-4, ada. Ya, ada teknologi itu. Hanya saja ke-ilmiah-an teknologinya sedikit saja manusia yang mengetahuinya. "Versi ilmiah" yang release update teknologinya jarang diketahui awam manusia. Sulit dipahami, tapi ada. Saya pernah jatuh sakit, sakit sekali. Sakit itu ada, mana bentuk rasa sakitnya?

Bisa jadi –atau mungkin sudah terjadi(?)– para ilmuwan "teknologi jasad" kini mulai meneliti, mencari tahu dan mengambil manfaat positif dari penelitiannya tentang teknologi "versi ilmiah" yang ada tapi halus –hampir tak terasa–. Sama seperti kehalusan waktu yang membawa penghuninya menjelajah kebesaran ciptaan Allah SWT, yaitu alam semesta. Dan semoga manfaat positif itu berujung kepada satu kesimpulan pasti –terbukti– dari sisi materi dan bukan materi, bahwa alam semesta adalah milik Allah SWT, Raja dari segala raja. Itulah kenyataan niscaya, bukan sekadar real time.  

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!! Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.

Tersakiti atau Disakiti adalah Bukan Pilihan

Kau??? Hadeuh ... tidak biasanya begitu cepat saya lari ke depan keyboard seperti pagi ini. Seolah-olah takut "tangkapan" ide bakal lepas dari pikiran saya. Hahaha. Ya topiknya sih masih seputaran menulis dan menulis. Hanya mungkin ini artikel –karena baru kali ini– tercepat yang saya tulis, sebab tidak menunggu nanti, dituliskan saat waktu luang datang. Pemicu artikel ini saat Google Plus saya di add oleh Ivan Wiraoctavian. Saya kunjungi situsnya dan membaca artikel ini:  Cerita Gus Dur dan Mata Allah Untuk mendukung apa yang ingin saya utarakan, saya kutip saja sebagian isi artikel mas Ivan itu: .............. Gus Dur : “Kamu suka menulis?” Mughni : “Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.” Gus Dur : “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.” Mughni : “Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai w...