Skip to main content

Menulis dengan Jari Telunjuk

Logo
Hai. Saya masih belum puas. Appaaa? Maksudnya, saya masih belum puas menulis topik artikel tentang menulis. Ya sambil saya terus menulis artikel ini siapa tahu ada Mang Inspirasi lewat dan berhenti, lalu bertanya sama saya, "Jang, mau inspirasi?"


Bagi Anda yang mau mulai menulis –begitu juga saya–, perlu Anda ingat bahwa menulis perlu dilatih, sama seperti seorang bayi yang berlatih untuk berdiri. Si bayi itu tidak serta merta langsung berdiri sambil mengangkat satu tangan tinggi-tinggi –bayangkan Ncing Super Hero–, lalu bicara, "Aku bisa!!" Memang benar sih semua perbuatan pastilah punya tujuan. Tapi ... untuk sampai ke tujuan itu, kan perlu proses. Mulailah menulis dan ikuti prosesnya.


Pembaca mungkin masih ingat masanya mesin tik? Saya jadi ketawa sendiri (bener, saya ketawa betulan, nih). Yang bikin saya ketawa itu, saya tiba-tiba ingat waktu itu saya dapat tugas ngetik apa ya? Saya lupa. Tapi yang bikin saya ketawa, sudah saya diberi tugas ngetik. Di rumah saya tidak punya mesin tik. Berkelilinglah saya demi tugas ngetik. Bertanya ke hampir setiap tetangga, siapa yang punya mesin tik. Bolehlah saya pinjam. Malaikat mesin tik, eh, akhirnya ada teman saya –saya ibaratkan sebagai malaikat mesin tik–, ayahnya punya mesin tik dan boleh saya pakai. Tapi saya harus ngetiknya di rumahnya. Akhirnya, saya pulang ambil beberapa kertas hvs putih bersih dari rumah lalu kembali ke rumah teman saya itu. Senangnya saya dalam perjalanan membayangkan akhirnya tugas saya ngetik bisa selesai juga. Tapi ternyata, setelah mesin tik itu sudah di hadapan saya, air muka saya berubah –entah apa warna air muka saya sebab nggak sempat ngaca–. Mesin tik itu kan butuh ditekan tuts nya untuk tiap huruf yang kita mau ketik. Saya menekan tutsnya hanya dengan satu jari. Ya, satu jari telunjuk tangan kanan saya saja. Mau sampai kapan selesai tugasnya hah???? Teman saya dan kakaknya juga ketawa terbahak-bahak melihat cara saya "mencolek" mesin tik (kalo mesin tik itu bisa ngomong, mungkin bakal bilang, "Ih si Akang mah toal-toel wae, getek Kang!")

Dari kisah nyata "memalukan" itu, semoga pembaca bisa mengambil suatu pelajaran berharga. Meskipun zaman ini untuk menulis lebih mudah, tapi tetap harus dilatih. Keyboard qwerty Pc itu tombolnya jangan "dicolek" satu jari seperti cerita saya barusan. Ya!! Belajarlah mengetik dengan 10 jari. Dengan membiasakan menulis, lama kelamaan Anda bakal terbiasa. Ingat pepatah: "Alah bisa karena biasa."

Seorang pendiam, bisa jadi sangat "bawel" saat dia menulis. Anda boleh percaya atau tidak. Menulis dan berbicara masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Menulis tidak memiliki intonasi, hanya rangkaian kata yang menjadi kalimat lalu menjadi paragraf, dan dari sekumpulan paragraf itu membentuk halaman demi halaman sehingga menjadi apa yang umumnya orang sebut sebagai buku. Berapa banyak buku dan tulisan yang mampu membuat seseorang "berubah"? Anda boleh percaya boleh tidak. Misalnya Anda pembaca sudah selesai membaca satu buku atau tulisan hingga kata terakhir, isi buku atau tulisan yang diserap oleh Anda akan berbeda saat Anda membaca lagi dikali kedua, kali ketiga dan seterusnya. Itulah hebatnya kata, kalimat, paragraf, halaman, buku.

Saya juga masih belajar ngetik (baca: menulis), tapi tidak dengan teknik "colek" lagi ya, ahaha. Mungkin ada di antara Anda yang sedang membaca artikel ini sudah menjadi  penulis. Ingat, seorang pembaca belum tentu suka menulis, dan seorang penulis sudah pasti hobi membaca. Ya sudah, berhubung Mang Inspirasinya sudah pergi berbelok di ujung jalan, saya akhiri sampai disini. Terima kasih ya, Mang Inspirasi.

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Terima Kasih, Guru!

Sumber: https://4.bp.blogspot.com/ Sumber : http://i1242.photobucket.com/ Persahabatan adalah jalinan murni tak pandang bulu. - Darimana saya memulainya ya?.... Mmmm, Ya, wanita ini pertama kali saya kenal, dulu, di masa SMA. Awalnya saya tidak terlalu akrab karena saya terhitung murid pindahan. Saya memilih untuk lebih dulu mengakrabi kaum lelaki sekelas daripada "mereka". Hehe, bukan saya bermaksud pilih kasih, tapi itu lebih didasari rasa malu saya saja kepada "mereka". Satu hal yang saya ingat sebab saya memperhatikannya. Apa yang saya perhatikan darinya? Wanita yang semasa SMA duduk bersebelahan -meski tidak semeja- dengan bangku belajar saya ini, tidak pendiam, tidak juga diam jika diajak bicara oleh saya. Dia menjawab seperlunya saja. Teman semejanya ini, mmm...seperti koin, ya seperti koin. Sama-sama wanita, memiliki hobi yang sama, duduk di meja yang sama, meski begitu tetap mereka berada disisinya masing-masing. Terbukti mereka berdua sekarang ti...