Skip to main content

Siapa Pasangan Penulis Itu?

Artikel ini melanjutkan artikel sebelumnya yang berjudul: Sudahkah anda berbicara hari ini?. Hanya saja apa yang saya bahas di artikel ini lebih mencoba menggali lebih dalam dengan dua jari, menggali satu kata yaitu: Menulis. Jangan terkejut ya, sebab apa yang coba saya gali dari kata "menulis" ini tidak berasal dari sumber-sumber formal umumnya, tapi berasal dari apa yang ada di benak saya saja. Jadi jangan terlalu serius membacanya. Kalau setelah sampai di kalimat terakhir para pembaca bisa memahami apa yang tertulis di artikel ini, silakan melanjutkan browsing lagi. Jika belum? Restart Pc atau smartphone Anda (hehe).


Saya mulai menggali dengan mencoba mengingat masa kecil saya dahulu, tapi ... sial, rupanya file-file tentang masa kecil saya sudah banyak yang corrupt, alias ... aku lupa! Mmm ... oya, saya mengingat saja kapan keponakan saya mencoba memegang alat tulis dan mulai mencorat-coret. Teringat oleh saya, saya amati bagaimana keponakan saya itu mencoba menulis garis vertikal, lalu saya bertanya sekaligus menjawab, "Huruf apa ini? "I"! Terangsang –konotasinya positif– dari ingatan tentang keponakan saya saat dia pegang alat tulis, saya bertanya dalam hati saat menulis posting ini, "Lebih dahulu mana? Berbicara atau menulis?" Sepertinya tidak perlu dipermasalahkan apa jawaban pertanyaan itu. Yang penting dua hal itu –menulis dan berbicara– masing-masing berguna bagi kita, manusia. 

Seorang penulis tidak akan disebut penulis jika tidak ada pasangannya, yaitu Anda, pembaca. Seorang pembaca belum tentu hobi menulis, tapi ... seorang penulis sudah pasti hobi membaca. Seberapa erat hubungan antara penulis dengan pembacanya? Se-erat antara penggemar dan pelakon telenovela. Dengan catatan, pelakon telenovela itu ternyata juga seorang penulis. Lho kok (?)! Seberapa erat hubungan antara penulis dengan pembacanya itu tergantung cocok tidaknya mereka berdua (kok seperti dua sejoli di mabuk lem aibon?). Hhhhh ... Ya tergantung tulisan penulis itu mampu diserap sehingga disukai pembacanya dong. Dan tergantung dari gaya juga. Gaya tulisan penulis dan gaya pembaca saat membaca tulisan si penulis. Buku novel romantis penulis terkenal dengan gaya tulisan dikenal biasanya dibaca oleh pembacanya dengan gaya selonjoran di kasur, bantal di punggung lalu sejenak kemudian mata berkaca-kaca. Sementara tulisan semacam yang Anda sekarang baca ini, biasanya dibaca sambil minum kopi depan Pc atau smartphone

Di paragraf ini saya membahas dengan serius. Ingat!! Serius!!! Saya sebenarnya miris melihat kenyataan. Buku adalah jendela ilmu. Tapi jendela itu selalu tertutup. Bagaimana cahaya bisa masuk?! Para penulis dengan berbagai macam genre banyak bertebaran. Sementara genre pembaca macamnya masih sedikit. Maksud saya, jika saja membaca sudah menjadi suatu kebiasaan di semua kalangan, tentu "jendela rumah" kita selalu saja terbuka. Hasilnya? "Rumah" kita menjadi sehat dan hangat sebab selalu saja cahaya itu masuk dan menerangi se-isi "rumah". Bagaimana ya caranya memotivasi empunya "rumah" supaya sering membuka jendela? Sebenarnya jawabannya sederhana. Mulailah membaca. Bacalah topik-topik yang disukai. Setelah itu? Mulailah menulis. Tulislah topik-topik yang disukai. 

Bagusnya zaman ini, menulis tidak harus dengan pena dan kertas, dan membaca juga tidak harus melulu buku. Manfaatkan kemudahan menulis di zaman ini untuk minimal belajar menulis uneg-uneg kegalauan Anda. Menulis puisi dan lain-lain. Siapa yang tahu? suatu waktu ketika Anda membaca-baca lagi beberapa tulisan Anda sendiri, tulisan itu memberikan inspirasi dan memberikan jawaban dari masalah yang sedang Anda hadapi. 

Saya kembali teringat lagi keponakan saya. Semoga saja jika sudah dewasa nanti keponakan saya tidak lupa masa kecilnya saat belajar menulis garis vertikal. Aamiin.
Logo

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!! Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.

Tersakiti atau Disakiti adalah Bukan Pilihan

Kau??? Hadeuh ... tidak biasanya begitu cepat saya lari ke depan keyboard seperti pagi ini. Seolah-olah takut "tangkapan" ide bakal lepas dari pikiran saya. Hahaha. Ya topiknya sih masih seputaran menulis dan menulis. Hanya mungkin ini artikel –karena baru kali ini– tercepat yang saya tulis, sebab tidak menunggu nanti, dituliskan saat waktu luang datang. Pemicu artikel ini saat Google Plus saya di add oleh Ivan Wiraoctavian. Saya kunjungi situsnya dan membaca artikel ini:  Cerita Gus Dur dan Mata Allah Untuk mendukung apa yang ingin saya utarakan, saya kutip saja sebagian isi artikel mas Ivan itu: .............. Gus Dur : “Kamu suka menulis?” Mughni : “Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.” Gus Dur : “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.” Mughni : “Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai w...