Skip to main content

Mey Mey Oh Mey Mey

Hehe, sepupu gue (si Mey Mey) nanya, "Yong, gue dah baca artikel-artikel di blog elu. Itu si Mbah Jingan siape, Yong?" Sepupu gue itu nanya-nya via chat Bbm ke gue. Mmm ... kira-kira setahun-an lalu (gue lupa euy). Waktu itu, gue sempet kaget juga, kok sebegitu kepo-nya sepupu gw, juga kalo pake istilah gw sendiri: "Kok jeli sepupu gw baca satu artikel (ini artikelnya) gue itu." 

Sebenernye siapa sih Mbah Jingan? 

Mbah Jingan itu adalah sosok orang yang saya tua-kan 'disegani'. Saya nggak bisa menebak kapan Mbah Jingan "muncul" di hadapan saya. Dan, –sayangnya– saya juga nggak bisa minta kepada Mbah Jingan untuk hadir –muncul– kalau saya membutuhkan wejangan-wejangannya. Semua tergantung kemauan Mbah Jingan.

Orang tua (Mbah Jingan) itu “aneh” –menurut pendapat saya pribadi–. Kalau pas “muncul” di hadapan saya, bicaranya sedikit tapi “mengena”. Bisa jadi sedikit bicaranya itu sebab memang Mbah Jingan mengerti bahwa perkataan itu bisa mengubah seseorang jika tepat timing-nya. Betik kata-kata Mbah Jingan itulah yang saya salin 'tulis' di sini (di blog ini). Yaa, memang tidak melulu isi blog ini adalah salinan kata-kata Mbah Jingan. Karena memang beliau hemat dalam berkata.

Saya kadang berandai-andai mendeskripsikan sosok Mbah Jingan ini. Sebab, jika beliau muncul, betik kata-katanya saja yang saya dapat dengar dengan telinga hati saya. Mmm … kalau dari betik intonasi kata-katanya yang berat, sepertinya beliau adalah orang yang berwibawa, luas ufuk cakrawala akal pikirannya. Dan, beliau seperti orang tua yang “dunia-lah yang mengikutinya”, maksudnya, beliau lebih mengutamakan akhirat tinimbang dunia. Dunia ada digenggamannya, bukan di hatinya.

Kalau dari postur tubuhnya, kok tiba-tiba (seperti ada layar di depan mata saya) saya melihat sosok Mbah Jingan berpakaian seperti pakaian seorang petani ya –minus topi petani–? Kaos singlet kumal berlapis dengan pakaian kemeja batik lengan panjang dengan motif batik seperti di bawah ini:

Batik khas Jawa Barat
Sumber: budidaya.com

Juga tinggi badan rata-rata dengan celana sampai batas mata kaki. Tapi, lucunya, beliau tidak ber-alas kaki. Ckckckck.

Jadi, secara garis besarnya, Mbah Jingan ini adalah sosok orang tua yang sederhana.

Yah, itulah Mbah Jingan.

Gue juga nggak ngerti, kenapa baru sekarang gue inget lagi ke-kepo-an sepupu gue itu. Ya, ujung-ujungnya, gue malah jadi nulis tentang siapa Mbah Jingan deh di post ini. Hehehehe.

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Tidak Berselingkuh Terhadap Diri Sendiri

Say No? Ya! Say No!!! Ya, terlintas begitu saja, malam ini di waktu luang -sambil mendengarkan lagu favorit- saya ingin menulis, mengembangkan dari satu kata selingkuh menjadi beberapa paragraf kalimat di bawah ini. Awam dikenal bahwa kata selingkuh ini selalu berkaitan dengan hubungan lelaki-perempuan dan maklum-lah sehingga menjadikan kata selingkuh selalu melekat -jika- dua pihak itu yang berbuat.

Melangkah Menuju Akhir

Gue masih punya satu tanda tanya besar yang belum kejawab berkaitan dengan waktu. Tanda tanya ini yang bikin gue jadi bikin tulisan-tulisan di blog ini yang ada kaitannya (meski kadang ada artikel yang nyengsol dari topik waktu, hehe) dengan apa yang berusaha gue coba pahami dari waktu. Ini juga gue pas lagi ngetik artikel ini masih belum tahu apa yang gue mau tulis. Ngetik ditemenin sama kopi hitam favorit gue plus camilan. Hehehe. Bentar ye, gue nyamil plus nyruput sisa kopi hitamnya dulu.