Skip to main content

Jelang Ramadan Tahun 2016

Jelang Ramadan tahun 2016 H-10 (meski belum dipastikan 1 Ramadannya) sudah mulai terasa orang-orang bersiap menyambut kedatangannya. Ya, memang Ramadan bagi sebagian besar kaum muslimin adalah bulan penuh barokah. Oleh sebab itu mereka suka dan berbahagia menyambut kedatangannya. Di lingkungan rumah saya saja hari Minggu kemarin bapak-bapak mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan dengan menghias, membersihkan selokan, merapikan tanaman sisi jalan menuju masjid. Dan biasanya, masjid juga kebagian jatah dibersihkan dan disiapkan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan rutinitas ibadah di bulan Ramadan. Tujuannya supaya jama’ah nyaman nantinya beribadah di masjid.

Di sisi lain, banyak orang yang bersiap dengan cara berhemat pengeluaran yang hasilnya nanti di gunakan jelang hari raya (1 Syawal). Mengapa berhemat? Karena budaya mudik dan bersilaturahmi butuh biaya ekstra. Bahkan perkiraan saya, tidak sedikit orang-orang yang mulai berhemat menyisihkan penghasilannya mulai dari bulan Syawal sebelumnya. Makanya slogan “Ayo berhemat” sebenarnya sudah lebih dulu dilakukan para Ramadan-ers (orang-orang yang suka dan berbahagia menyambut bulan Ramadan).

Tak ketinggalan, persiapan fisik juga perlu. Sebab, jangan sampai di hari H Ramadan justeru sakit. Tentunya kerugian yang didapat jika begitu. Yang utama selain yang sudah dipaparkan sebelumnya, adalah persiapan niat. Ya, membulatkan niat di hati untuk berpuasa Ramadan selama sebulan penuh. Dengan niat prima, fisik juga prima, semoga berbuah hasil yang prima juga di bulan Ramadan tahun 2016 ini. Aamiin.

Tapi, biasanya di bulan Ramadan harga bahan-bahan pokok jadi naik. Hiks hiks. Maunya sih justru harga bahan-bahan pokok itu spesial “terjun bebas” turun harga di bulan Ramadan. Tapi hukum permintaan penawaran tidak/belum tergoda. Tetap pada pendiriannya. Andai saja benar bisa terjadi harga bahan-bahan pokok spesial turun di bulan Ramadan, o alangkah bahagianya hati ini. Bisa jadi tambah semangat puasa Ramadannya tanpa harus ekstra memikirkan bagaimana membeli bahan kebutuhan pokok selama bulan Ramadan.

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.

Itulah Uniknya Gaya Ide Menulis Ide

Menulis ide dan ide menulis tidaklah sama. Dua hal inilah yang bikin saya nggak bisa tidur malam ini. Pikiran saya bertanya-tanya, "Apa bedanya dari dua hal itu ya?" Menulis Ide Kalau dilihat dari susunan kata-katanya, –menulis ide– ya titik beratnya di menulis ide -nya. Maksudnya, apa yang ditulis si penulis ya berkaitan dengan ide yang disampaikan penulis dalam bentuk tulisan. Contoh sederhananya? Mmm … apa ya. Oya, contohnya seperti saya yang penggemar kopi hitam, saking gemarnya minum kopi hitam, saya mempunyai ide bagaimana meracik kopi hitam biasa menjadi lebih nikmat jika diminum. Nah, ide saya tentang bagaimana meracik kopi hitam menjadi lebih nikmat itu saya tuliskan tuntas, dari A sampai Z. Itulah menulis ide. Kalau saya perhatikan, banyak dari para blogger menggunakan cara menulis ide ini yang kemudian di posting di blognya. Tapi tetap dengan menggunakan gaya menulis khas mereka –para blogger– sendiri dalam gaya penulisannya. Enaknya pakai cara menulis ide...

Aku adalah Aku

Aku adalah aku. Manusia bodoh yang berlagak sok pintar dengan sedikit ilmu seolah-olah mengetahui semuanya. Aku adalah aku. Manusia ganjil yang tak mau menggenapi. Aku adalah aku. Manusia hina yang memulyakan dirinya sendiri. Aku adalah aku. Manusia berjiwa kecil dengan jubah kebesaran materi dan kekuasaan. Aku adalah aku. Manusia picik yang berhias dengan kebijakan semu. Namun Aku adalah aku. Yang mau tak mau, sudi tak sudi Niscaya tertunduk wajah di hadapan ke-AKU-an-MU.