Skip to main content

Posts

Mey Mey Oh Mey Mey

Hehe, sepupu gue (si Mey Mey) nanya, "Yong, gue dah baca artikel-artikel di blog elu. Itu si Mbah Jingan siape, Yong?" Sepupu gue itu nanya-nya via chat Bbm ke gue. Mmm ... kira-kira setahun-an lalu (gue lupa euy). Waktu itu, gue sempet kaget juga, kok sebegitu kepo-nya sepupu gw, juga kalo pake istilah gw sendiri: "Kok jeli sepupu gw baca satu artikel ( ini artikelnya ) gue itu."  Sebenernye siapa sih Mbah Jingan?  Mbah Jingan itu adalah sosok orang yang saya tua-kan 'disegani'. Saya nggak bisa menebak kapan Mbah Jingan "muncul" di hadapan saya. Dan, –sayangnya– saya juga nggak bisa minta kepada Mbah Jingan untuk hadir –muncul– kalau saya membutuhkan wejangan-wejangannya. Semua tergantung kemauan Mbah Jingan. Orang tua (Mbah Jingan) itu “aneh” –menurut pendapat saya pribadi–. Kalau pas “muncul” di hadapan saya, bicaranya sedikit tapi “mengena”. Bisa jadi sedikit bicaranya itu sebab memang Mbah Jingan mengerti bahwa perkataan itu bisa m...

Inilah Aku

Inilah aku. Seorang anak manusia yang dibesarkan dari tempat penampungan. Seorang anak yang tak pernah mengecap setetes pun air susu ibunya dan belaian sayang bapaknya. Aku dilahirkan normal, ya ... normal. Aku dilahirkan dari rahim ibu yang abnormal jiwanya. Seorang perempuan yang kalah perang dengan egonya sendiri lalu bersekutu dengan iblis. Sementara ayahku, cih! Lelaki ganteng berjiwa serigala yang mempertuhankan selangkangannya. Melalui mereka aku lahir dan akhirnya terdampar di penampungan. Spesies-ku, yang memiliki nasib sama denganku, memang jumlahnya tidak banyak di muka bumi ini. Tapi, apa yang aku rasakan dari setiap detik yang aku alami, mungkin akan menghabiskan seluruh senyum kebahagiaan kalian dalam beberapa kejap saja. Kalian tidak percaya? Apa kalian pernah merasakan rindu sekaligus dendam kesumat kepada orangtua kalian? Apa kalian pernah merasakan benci kepada diri kalian sendiri? APA KALIAN PERNAH MERASAKAN BAHWA KALIAN ADALAH SAMPAH DI KOLONG LANGIT INI?! ...

Tak Berjudul

Tidak semua anak bisa menuliskan tentang kepribadian ayahnya.  Terkadang ...  begitu banyak sekat ...  begitu banyak pekat ...  yang mencegat ...  membuat jemarinya tercekat. Mengapa begitu?  Sebab ia sungkan.  Ketika ia sedang menuliskan beberapa kata.  Sang ayah sudah menuliskannya dengan tinta keringatnya.  Ketika ia sedang menuliskan beberapa kalimat.  Sang ayah sudah menuliskannya dengan tinta darahnya.  Bahkan ... ketika ia sedang menuliskan beberapa paragraf.  Sang ayah sudah menuliskan buku hidupnya, dengan tinta nyawanya.  Dan akhirnya ...  sang anak hanya mampu melangitkan do'a ...  untuk ayahnya

Dia Tidak Bersalah

Dia tidak bersalah.  Atas apa yang terjadi hari ini.  Dia tidak bersalah.  Atas garis lurus yang sudah berusaha diguratnya, tapi dibengkok-kan oleh riuh suara sumbang setelahnya.  Dia tidak bersalah.  Atas isi kepala bergandul sanggul yang keluar melalui mulut dan pena-nya. Tanyakan kepada hari ini.  Apakah hitam adalah putih?  Atau putih adalah hitam?  Tanyakan kepada hari ini.  Apakah gelap adalah terang?  Atau terang adalah gelap?  Tentu sang hari akan terdiam, bisu, kelu.  Sebab hitam dan putih, terang dan gelap adalah laras harmoni kamu!Sang hari.  Tanpanya, kamu tak ada!  Dia tidak bersalah.  Sebab yang diperjuangkannya adalah memanusiakan manusia.  Meski dia adalah manusia berjuluk ... perempuan.  Dia tidak bersalah.

Andai Kartini adalah Kartono

Muara ide pemikiran seorang Kartini adalah: Memanusiakan manusia. Suatu ide pemikiran yang sudah diusung sejak era sebelum Kartini. Tengoklah sejarah. Berapa banyak "orang-orang besar" yang mengusung ide pemikiran ini.  Hanya saja, sebab kebanyakan manusia lebih melihat "siapa" (subyek) bukan "apa" (obyek) dari sesuatu, terjadilah bias dari apa –ide pemikiran– yang mereka perjuangkan dalam lintasan waktu. Kartini adalah Kartini, seorang perempuan yang hidup di era budaya feodal yang meliputinya. Andai saja, waktu itu Kartini –perempuan– adalah Kartono –lelaki–, mungkin kesimpulan sejarah akan bergeser dari titiknya sekarang.  Apa yang sudah diperjuangkan seorang Kartini mengerucut kepada sebuah sinergi antara ke-perempuan-an dan ke-lelaki-an dalam konteks hidup dan kehidupan. Jangan melawan kodrat sebab akan menimbulkan mudharat. Mengapa hari-hari ini harmoni suara-suara dan tulisan-tulisan Kartini terdengar sumbang dan tak terbaca jelas?

Antara Aji, Cahaya dan Joko (Bagian Pertama)

Antara Aji, Cahaya dan Joko Mukadimah C ahaya Diani, seorang perempuan yang menjadi impian setiap lelaki, mandiri, cerdas, kritis, berbicara seperlunya dan cenderung pendiam. Meski cenderung pendiam, senyumnya selalu menghiasi wajahnya setiap kali bertemu orang di lingkungan perumahan sederhana di mana dia tinggal. Didikan orangtua dan didikan formal yang didapatnya, menjadikan dia, perempuan yang cukup berhasil mengelola usahanya, –toko merchandise yang dipasarkannya dengan cara online juga offline– dan toko offline-nya terletak di ruko dekat pintu gerbang masuk perumahannya. Lelaki beruntung yang impiannya dapat terwujud –sebab menjadi "raja" di hati Cahaya Diani– adalah Rayhan Aji, seorang lelaki sederhana dalam penampilan. Dia bekerjasama –dalam mengelola toko Cahaya Diani– bersama istrinya, Cahaya Diani. Kesederhanaan Rayhan Aji, sifat tenangnya, dewasa dengan kelelakiannya, selalu menjadikan Cahaya Diani merasa nyaman dan terjaga sebagai seorang istri. Mereka ber...

Benarlah Adanya

Adalah zarah rasa memuai dari palung hati setelah sekian lama ia tergeletaK.  Ketika sentuhan lembut membangunkannya dari mati suri beku lamA.  Usapan lembut, hangat, merasuk masuk mengoyak sukma jengahkU.  Cerita tentang Engkau nyatanya bukan romantiC.  Ingin kubungkam mulut-mulut penafsir dusta bergaun dengkI.  Namun penyamun tetaplah penyamuN.  Tak ayal satu waktu mereka pasti terperanjaT.  Atas pencurian makna suci yang seharusnyA.  Kala itu benarlah adanyA.  Aku-mu akan lebur hancur, aku-mu akan tertolaK.  Usahlah bersedih bening, jangan menangis, hening ... bilakah itu kisahmU?