Langsung ke konten utama

Ingin Mengirim Naskah Tulisan ke Penerbit? Baca Ini!

Gambar
Sumber: allaboutnovel
Halo pembaca. Masih suka ubek-ubek di Google mencari informasi yang Anda butuhkan? Sama. Saya juga. Ya cari informasi berita, yang unik, atau mencari informasi peluang mendapatkan penghasilan. Sekadar tips saran saja dari saya. Mencari informasi  di Google tetap harus kritis melihat sumber pemberi informasinya. Valid dan terpercaya. Itulah informasi yang bisa berbuah menjadi sesuatu yang bermanfaat buat kita.



Mmm ... saya bergabung di komunitas Google Plus -Penulis Indonesia-, belum lama sih saya bergabung di komunitas itu. Dari time line komunitas itu, ada posting dari pengarang cerpen bersambung Arini –saat artikel ini ditulis, cerbung itu belum tamat– karya Ibu Dyah Rina. Lalu saat saya baca time line di komunitas itu, ada yang bertanya bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit, lalu Ibu Dyah –Arini– Rina ini memberi komentar di posting itu. Saya baca komentar postingnya, saya klik linknya, dan saya baca-baca isi blognya. Awalnya saya pikir link untuk pengiriman naskah itu hanya satu saja. Ternyata cukup banyak. Saya share dan rekomendasikan saja link itu di artikel saya kali ini buat pembaca. Berbagi toh tidak akan mengurangi apa yang sudah ada.

Nama blog itu, Octa Cinta Buku, pemilik blognya, Yohanes Octa, Dalam halaman itu dia mengatakan, "Saya adalah pecandu, pecandu berat buku. Selama ini, buku hanya menjadi teman manakala saya baru membelinya dari toko buku. Sesudah itu akan masuk kotak buku dan diam selamanya. Lewat blog ini, saya ingin berbagi dan mengabadikan mereka melalui review dan etalase maya ..."

Nah, di blog miliknya ini ada disisipkan beberapa link yang terkumpul dalam satu navigasi dan sub-sub navigasinya yang lumayan lengkap –menurut saya pribadi–. Link navigasinya adalah: Penerbitan berisi sub-sub navigasi tentang apa persyaratan untuk mengirimkan naskah kepada penerbit.


Bagi Anda yang gemar menulis dan ingin mencoba peluang peruntungan tulisannya diterbitkan dalam bentuk buku, tidak ada salahnya Anda mengunjungi blog Octa Cinta Buku. Pemiliknya ramah kok (opini saya), dan menjawab tepat sesuai pertanyaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Itulah Uniknya Gaya Ide Menulis Ide

Menulis ide dan ide menulis tidaklah sama. Dua hal inilah yang bikin saya nggak bisa tidur malam ini. Pikiran saya bertanya-tanya, "Apa bedanya dari dua hal itu ya?" Menulis Ide Kalau dilihat dari susunan kata-katanya, –menulis ide– ya titik beratnya di menulis ide -nya. Maksudnya, apa yang ditulis si penulis ya berkaitan dengan ide yang disampaikan penulis dalam bentuk tulisan. Contoh sederhananya? Mmm … apa ya. Oya, contohnya seperti saya yang penggemar kopi hitam, saking gemarnya minum kopi hitam, saya mempunyai ide bagaimana meracik kopi hitam biasa menjadi lebih nikmat jika diminum. Nah, ide saya tentang bagaimana meracik kopi hitam menjadi lebih nikmat itu saya tuliskan tuntas, dari A sampai Z. Itulah menulis ide. Kalau saya perhatikan, banyak dari para blogger menggunakan cara menulis ide ini yang kemudian di posting di blognya. Tapi tetap dengan menggunakan gaya menulis khas mereka –para blogger– sendiri dalam gaya penulisannya. Enaknya pakai cara menulis ide...

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.