Langsung ke konten utama

Ibu, Merdeka Harimu Kapan?

Ibu, merdeka harimu kapan? Setiap hari aku melihat engkau penuh peluh menggendong anak-anakmu.
Logo wajahmu penuh jelaga debu perapian memasak sederhanamu, meski kadang apa yang engkau masak terbuang percuma begitu saja. Waktu-waktumu penuh keringat, jelaga, keletihan dan bau kurang sedap. Anehnya wajahmu tidak terlihat ber-air merah 'marah'. Hanya air jembar yang mengaliri setiap lekuk-lekuk mata air bercampur peluh wajahmu hingga berkilauan kulihat.

Tapi itulah engkau adanya, ibu. Meski nantinya mungkin engkau dikhianati oleh anak-anakmu sendiri yang pernah lahir dari rahim-mu, seolah-olah mereka lupa atau pura-pura lupa.
Tidak beranjak sementara aku memperhatikanmu. Sementara aku menoleh melihat se-isi rumahmu kini, berantakan!
Entah kemana perginya anak susuanmu kini, mungkin sebagian ada di negeri seberang berfoya-foya tak pernah kurang.
Getirmu menjadi manis untuk mereka. Sedihmu menjadi tertawa mereka.
Ah ...

Ibu, merdeka harimu kapan? "Mungkin setelah malaikat menjemput ibu untuk berpulang, dek, ibu akan merdeka. Dek, memang sudah kodrat menjadi seorang ibu, Meski tidak semua anak-anak akan berkhianat, setidaknya tidak semuanya hitam berarti pahit, getir.
Dek, sudah kodrat menjadi seorang ibu untuk merawat, membesarkan, membimbing apa yang keluar dari rahim ibu.
Ibu tidak pamrih, meski mereka berlaku begitu, mungkin cara ibu yang salah membesarkan mereka. Biar bagaimanapun juga, mereka amanat Tuhan yang harus ibu pertanggungjawabkan nanti saat ibu merdeka pulang.
Dek, buat ibu merdeka itu keikhlasan. Merdeka itu tanggung jawab. Dan ... merdeka sejati itu saat ibu pulang.", jawab sang ibu .  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahim Sang Penulis

Hmmm, masih saja saya hadir di sini bertemakan tulisan artikel tentang, menulis, menulis dan ... menulis. Kenapa? Ya saja juga nggak bisa jawab! Begini, mmmm, sebentar, sebentar ... Maaf, barusan saya gosok-gosok hidung saya dulu karena gatal. (mungkin mau flu ya?). Begini, pembaca mungkin pernah memperhatikan tulisan anak-anak, atau mungkin dulu waktu kita masih sekolah ditingkat SD, tulisan kita pernah dikomentari, "Aduh, tulisan kamu bagus ya Nak." atau, "Yah Nak, tulisan kamu kok jelek ya, belajar nulis lagi ya Nak, biar bagus tulisan kamu." Sayangnya tulisan saya dari zaman SD sampai sekarang dikomentari dengan komentar mirip dengan komentar kedua. Mungkin anak-anak zaman sekarang juga masih mendapat salah satu di antara dua komentar barusan diatas. Ternyata, itu semua hanya sekadar tulisan.

Itulah Uniknya Gaya Ide Menulis Ide

Menulis ide dan ide menulis tidaklah sama. Dua hal inilah yang bikin saya nggak bisa tidur malam ini. Pikiran saya bertanya-tanya, "Apa bedanya dari dua hal itu ya?" Menulis Ide Kalau dilihat dari susunan kata-katanya, –menulis ide– ya titik beratnya di menulis ide -nya. Maksudnya, apa yang ditulis si penulis ya berkaitan dengan ide yang disampaikan penulis dalam bentuk tulisan. Contoh sederhananya? Mmm … apa ya. Oya, contohnya seperti saya yang penggemar kopi hitam, saking gemarnya minum kopi hitam, saya mempunyai ide bagaimana meracik kopi hitam biasa menjadi lebih nikmat jika diminum. Nah, ide saya tentang bagaimana meracik kopi hitam menjadi lebih nikmat itu saya tuliskan tuntas, dari A sampai Z. Itulah menulis ide. Kalau saya perhatikan, banyak dari para blogger menggunakan cara menulis ide ini yang kemudian di posting di blognya. Tapi tetap dengan menggunakan gaya menulis khas mereka –para blogger– sendiri dalam gaya penulisannya. Enaknya pakai cara menulis ide...

Suatu Pekerjaan jika di Awali dari Hobi Biasanya Akan Berlanjut Menjadi Profesi

Cukur Asgar Pernah potong rambut? Pasti jawabannya,”Pernah.” Bahkan buat kaum lelaki, potong rambut adalah suatu hal yang rutin. Dimana biasanya kita memilih tempat untuk potong rambut? Biasanya para wanita lebih memilih salon daripada potong rambut ‘Asgar’. Hehehe. Nah, tulisan ini membahas sekitar potong rambut ala ‘Asgar’. Utamanya membahas seputar si tukang potong rambutnya. Ide menulis tema ‘Asgar’ ini Saya dapat dari obrolan ringan antara Saya dan seorang tukang potong rambut ‘Asgar’.